Archives

gravatar

Cerpen : Kebodohan yang Menjebakku ke dalam Penyesalan . . .

Hay Tmen2 Sahabat Vanila,, Sorry yaa Baru Update nich , ^_^
Kali ini ada Cerpen nich Kiriman dari Temen kita, yaitu Rachel. M
Okeehh Langsung aja yuk di Tengok Cerpennya..

gravatar

Cerpen : Seorang gadis yg Menjual Keperawanannya . . .

... Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima .
Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu.
Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.

gravatar

Artikel : Coba Lakukan itu Selamanya untukku . . .

... Ada sepasang Kekasih yang sudah lama pacaran lebih dari 1 tahun. Suatu hari si cewek memberikan sms kepada cowoknya . Isinya kurang lebih seperti ini :

gravatar

Artikel : Pelajaran Berharga dari Seorang Penebang Pohon . . .

Alkisah, ada seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.

gravatar

Artikel : Andaikan Ini Ramadhan Terakhir . . .

Andai kita tahu ini Ramadhan terakhir..

masih adakah kesempatan untuk melaksanakan sholat di awal waktu
sholat yang dikerjakan.. .sungguh khusyuk lagi tawadhu'
tubuh dan qalbu...bersatu memperhamba diri
menghadap Rabbul Jalil... menangisi kecurangan janji
"innasolati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil 'alamin"
[sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku...]

gravatar

Cerpen : Kasih Sayang Seorang Ibu . . .

Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya
Suaminya sudah lama meninggal karena sakit
Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya.
Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi

gravatar

Artikel : Kisah Menyentuh Tentang Orangtua

Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan.
Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.

gravatar

Cerpen : Pupus . . .

Kadang hal yang diharapkan berbenturan dengan kenyataan. Orang menganggapnya sebagai takdir. Di situlah perasaan bermakna, salah satunya adalah cinta. Apa yang dialami Gita memang biasa, terjadi pada manusia umumnya. Tetapi ini menjadi luar biasa, ketika ia merasa bahwa simpatinya sebagaimana pungguk merindukan bulan.

gravatar

Artikel : Filosofi Tentang Sebuah Pensil . . .

“Setiap orang membuat kesalahan. Itulah sebabnya, pada setiap pensil ada penghapusnya”
 (Pepatah Jepang).

* * *

gravatar

Cerpen : Keperawanan yg Hilang di Malam Valentine (Part 2) . . .

Hari ini ruang kelas terpisah antara laki-laki dan perempuan.
Kegiatan eskul hari ini di'isi dengan kegiatan Rohis.
Miss. Salsabillah adalah guru Bahasa Inggris yang dipercaya Kepala Sekolah sebagai tutor kegiatan Rohis di kelas dua, Kelasnya Ririn

gravatar

Artikel : Hidup Untuk Memberi

... Disuatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip disela-sela kepadatan kendaraan disebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta .

gravatar

Artikel : Pelajaran Berharga Dari Seorang Anak Bodoh

Tukang cukur berkata, "Itu dia si Bejo, dia adalah anak paling bodoh di dunia"

"Apa iya..?" jawab pengusaha ..

gravatar

Artikel : Pelajaran Berharga dari Sebuah Lilin Harapan . . .

Ada 4 lilin yang menyala dalam sebuah ruangan, Sedikit demi sedikit habis meleleh. Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.

gravatar

Cerpen : Keperawanan yg Hilang di malam Valentine (Part 1) . . .

...Bunga-bunga bertaburan indah didepan mata Rin, aromanya yg nyaman di hidung membangkitkan semangat untuk segera menghirupnya. Dia pun jingkrak-jingkrak.

gravatar

Cerpen : Ada "Cinta" di Antara "Persahabatan" . . .

Pagi yang cerah tepatnya hari senin, seperti biasa mereka berangkat sekolah. Vino dengan setia menjemput Lisa, mereka berangkat lebih pagi dari biasanya. Setelah Lisa dijemput dengan Vino, mereka berdua menuju sekolah. Sesampainya mereka di sekolah, bel sekolah telah berbunyi waktunya untuk upacara hari senin.

 Vino menarik tangan Lisa, karena dia takut terlambat. Lisa pun kaget tangannya ditarik oleh Vino dengan begitu keras, sehingga tangan Lisa sakit.

gravatar

Artikel : Arti Sebuah Persahabatan

Ketika seseorang yang sudah kita anggap sebagai sahabat, namun pada satu ketika ternyata dia diam-diam menginginkan dan melakukan sesuatu yang pada dasarnya tidak pernah terpikirkan oleh kita,  apa yang harus diperbuat dan apa yang bisa kita rasakan..?

Kekecewaan yang sangat dalam dan terlukalah sudah hati dan rasa… Ini sebuah pertanda bahwa ia sangat tidak pantas untuk dijadikan sahabat. Mungkin saja kedekatan yang selama ini tercipta memiliki dua arti yang berbeda.

gravatar

Cerpen : Terima Kasih Ibu . . :

Nisa Adalah gadis semata wayang dan ia tinggal di sebuah perumahan biasa bersama ibunya, ayahnya telah lama meninggal dunia . .

* * *


Pada suatu malam di Bulan Suci Ramadhan, Nissa Bertengkar dengan Ibunya, karna salah satu keinginannya tidah terpenuhi . .

Karna Sangat Marahnya, Nissa meninggalkan rumah tanpa membawa apapun.

Saat ia berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.

Saat Menyusuri Sebuah Jalan, ia Melewati Sebuah Warung Nasi Goreng dan Ia mencium Harumnya Aroma masakan itu..

ia Ingin Sekali Memesan Sepiring Nasi Goreng, tetapi ia tidak mempunyai uang.

Pemilik warung yg melihat nissa berdiri cukup Lama di depan warungnya, lalu berkata :
"Apakah engkau ingin Memesan Sepiring Nasi ..??"

"Ya aku ingin sekali, tetapi aku tidak membawa uang.." Jawab Nissa dengan sedikit Malu.

"Tidak Apa-apa, aku akan menTraktirmu . ." Kata si Pemilik Warung.
"Silahkan Duduk, aku akan memasakan-Mu Nasi goreng yg Lezat Untukmu . ."

* * *

Tidak Lama Kemudian, Pemilik warung mengantarkan sepiring nasi goreng yg masih agak panas.

Nisa Dengan Segera, memakan Beberapa suap, kemudian airmata nya mulai berlinang,

"Ada apa..? Mengapa engkau menangis ..?" Tanya Si Pemilik Warung.

"Tidak Apa-apa, Aku hanya terharu.." Jawab Nisa sambil mengusap Airmatanya.

"Seseorang yg baru ku kenal pun Memberiku Sepiring Nasi Goreng, Tetapi Ibuku Sendiri setelah Bertengkar denganku malah mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan Kembali Lagi Ke rumah.."

"Sedangkan Kau, Seseorang yg baru ku kenal, tetapi begitu peduli denganku di bandingkan ibuku sendiri.." Katanya, kepada pemilik warung..


Pemilik warung setelah mendengar perkataan nisa, menarik nafas Panjang dan berkata
"Mengapa Kau Berfikir seperti itu ..??" "RenungkanLah hal ini,
aku hanya memberimu sepiring nasi goreng dan kau begitu terharu, sedangkan ibumu yg telah memasak nasi, lauk-pauk, bertahun-tahun bahkan pernah memasakkan nasi goreng untukmu dari saat kau masih kecil hingga dewasa sperti sekarang ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya ??"
dan kau malah bertengkar kepadanya..?"


Nissa terhenyak sesaat setelah mendengar Hal Tersebut,
dalam Hati ia berkata
"Mengapa aku tidak Berfikir tentang Hal tersebut,,
untuk sepiring nasi goreng dari orang yg baru ku kenal saja aku begitu berterima-kasih, tetapi kepada ibuku yg telah memasak untukku selama bertahu-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku terhadapnya, dan hanya karna persoalan sepeLe saja aku bertengkar dengannya..?

* * *

Nissa segera menghabiskan Nasi Gorengnya, Lalu Ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumah.

Sambil berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata apa yg harus di ucapkan kepada ibunya.
Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas.

ketika ibunya melihat nissa, kalimat yg pertama kali keluar dari mulutnya adalah :
"Nissa, kau sudah Pulang nak, SyukurLah.. Cepat masuklah, ibu telah menyiapkan makan malam untukmu.. MakanLah sebelum kau tidur, karna akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang.."

"Nissa Sudah makan Kok bu,," Jawab Nissa.

"Baiklah kalau begitu tidurlah, ini sudah malam, nanti sahur'Mu telat..
Ibu akan menyiapkan makan untuk sahur kita nanti . ."

Seketika itu Juga, Nissa tidak dapat menahan Tangisnya . .
dan ia menangis di hadapan ibunya . .

"Ibu, Maafkan Anisa yg tidak pernah berterima kasih pada ibu . . "

* * *



...Sekali Waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada oranglain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yg di berikan kepada kita,
Tetapi kepada orang yg sangat dekat dengan kita seperti orangtua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka Se-Umur Hidup kita ...


:'-)



gravatar

Cerpen : Sahabat,, Ternyata kau Telah lebih dulu Pergi . . .

     Siang itu angin begitu kencang menusuk kedalam tulang rusuk ku,,hujan yang sangat deras terus membasahi seluruh badan ku,namun aku tidak memperdulikan itu semua,aku tidak perduli berapa lama aku akan seperti ini.aku hanya terpaku di depan sebuah tumpukan tanah,yang terdapat taburan bunga,serta ada nya batu nisan yang bertuliskan sebuah nama,dan ternyata itu adalah nama sahabat lama ku,yang sejak 6 tahun yang lalu aku tidak pernah tau kabar nya.

. . .


     Dina adalah sahabat lama ku waktu kecil,dulu kami sering bermain bersama,orang tua dina pun bersahabat dengan orang tua ku,aku menganggap dina sudah seperti kakak ku sendiri,saat aku sedih dia selalu bisa menghibur ku dan membuat ku tertawa,dan aku pun sebalik nya.Setiap aku pergi dina selalu turut pergi bersamaku,kami selalu menjaga satu sama lain.Dan kebetulan rumah ku tidak terlalu jauh dari rumah dina,saat masih di bangku dasar aku selalu berangkat sekolah bersama dina,meskipun kami tidak sekolah di sekolah yang sama.


     Saat masuk SMP dina tidak tinggal lagi di Jakarta,karena orang tua nya di pindah tugaskan ke bandung,maka dia pun harus bersekolah di bandung. Rasa sedih ku rasakan,saat aku harus berpisah dengan dina, air mata ku tidak bisa berhenti menetes saat aku memeluk tubuh sahabat ku itu. Dina meyakinkan aku bahwa dia akan terus mengabari aku,dan dia juga meyakinkan aku bahwa persahabatan kita tidak akan berakhir sejauh apapun kita tinggal. Aku pun merelakan dina untuk berangkat ke bandung, perlahan mobil yang dinaiki dina dan keluarga nya pun beranjak pergi dari halaman rumah ku. Lambaian tangan dina pun semakin lama semakin jauh,jauh,jauh dan perlahan-lahan mulai menghilang.



     Tiga bulan telah berlalu,semenjak dina pergi,hari-hari ku tidak seceria dulu,aku memang mempunyai teman-teman baru di sekolah dan rumah ku,tapi mereka semua tidak ada yang bisa seperti dina,aku sungguh merindukan sahabat kecil ku,ingin rasa nya aku ke bandung untuk menemui dina,tapi dina selalu melarang aku untuk menemui nya,dia selalu berkata”Aku mohon jangan temui aku dulu,aku ingin menguji persahabatan kita,jadi tunggu lah sampai kita lulus SMP,setelah itu aku janji akan menemui mu di tempat kita sering bermain sewaktu kecil”.Dina memang tidak pernah lupa untuk mengabari aku tentang keadaan nya disana,setiap hari dia selalu sms dan menelpon aku,aku sangat bahagia bila menerima sms atau telpon dari nya.


* * *

     Hari-hari terus berlalu,tidak terasa waktu begitu cepat bergulir,tiga tahun sudah aku menjadi siswi SMP,dan tiga tahun sudah persahabatan ku dan dina diuji,dan selama tiga tahun itu juga aku menjalin hubungan dengan seorang pria yang bernama Dimas yang sangat aku sayangi.Dimas lah yang selalu menemani aku dikala aku kesepian,dan disaat aku sedang merindukan dina,dimas selalu meyakinkan aku bahwa aku akan bertemu dengan sahabat ku itu. Aku sangat bahagia,karena lusa aku akan pergi ke Bandung untuk menemui sahabat kecil ku.Aku pun telah mempersiapkan sebuah kado yang sangat special untuk sahabat ku,karena kita berjanji akan saling tukar-menukar kado saat kita bertemu.



     Lusa telah tiba,26 Desember,itulah tanggal yang aku lingkari di kalender yang ada di sebelah meja belajar ku,tanggal itu adalah tanggal kesepakatan aku untuk bertemu dina.Pagi ini aku segera beranjak bangun dari tempat tidur,lalu segera mungkin aku mandi dan bersiap-siap karena jam 08.00 aku akan pergi ke Bandung bersama dimas.Jam telah menunjukan pukul 07.30,aku bergegas turun keruang tamu untuk menunggu Dimas dan berpamitan dengan orang tua ku.Selama aku menunggu Dimas,aku berusaha untuk menelpon Dina,tapi aku tidak mengerti mengapa selama 3 hari ini handphone dina tidak pernah bisa aku hubungi,tapi aku tidak mau sedih,karena aku yakin hari ini aku akan bertemu dengan dina.


Saat aku sedang berusaha menelpon dina,aku mendengar suara motor dimas,dan ternyata dimas telah berada di depan rumahku.Aku pun segera keluar untuk menemui Dimas dan orang tua ku juga turut keluar bersama ku.Tapi ada satu hal yang membuat ku bingung,saat aku ingin berpamitan dengan orang tua ku,orang tua ku berkata :



”Nak apapun yang akan kamu lihat disana,kamu harus bisa menerima nya,kamu harus yakin ini semua sudah jalan nya”.



Aku sungguh tidak mengerti apa maksud dari perkataan orang tua ku,tapi aku tidak membahas itu,karena yang ada dalam pikiran ku sekarang,hanya ingin bertemu dina sahabatku.

* * *

Jam menunjukkan pukul 11 siang,akhirnya aku sampai dikota Bandung,dan beberapa kilometer lagi aku akan sampai di rumah Dina.Betapa terkejut nya aku,karena saat aku sampai di depan rumah nya Dina,aku melihat banyak nya orang-orang di rumah nya dan ada beberapa bendera berwarna kuning di depan rumah nya,aku segera berlari masuk kedalam rumah dina.Aku tidak bisa menahan air mata ku yg terus menetes,saat aku melihat sebuah tubuh terbaring kaku dengan ditutup kain putih dan di kelilingi orang banyak sambil membaca ayat-ayat al-quran,dan ternyata itu adalah tubuh dina sahabat ku.Aku terus menangis,menangis dan menangis karena aku tidak percaya Dina akan pergi.



Orang tua dina berusaha untuk membuat ku tenang,dan mereka menceritakan semua kepada ku,Ternyata sejak umur 5 tahun dina menderita penyakit kanker darah,tapi dia tidak pernah mau menceritakan itu semua kepada ku,karena dia tidak mau masa kanak-kanak nya di hiasi dengan kesedihan, dia selalu menutupi rasa sakit nya dengan canda tawa nya,dan ternyata dina pindah ke Bandung bukan karena orang tua nya di pindah tugas kan,tapi karena dina tidak mau aku sedih bila tau kenyataan yang sebenarnya. dina tidak mau membuat masa kecil ku tidak bahagia,maka dina selalu menutupi semua nya dari ku. Air mata ku semakin deras mengalir saat aku mendengar semua pernyataan orang tua dina, Dimas yang ikut mendampingi ku berusaha menenangkan aku,dan aku baru tahu ternyata orang tua ku telah terlebih dahulu mengetahui semua nya,tapi atas permohonan dina mereka juga menutupi nya dari ku.



Sungguh aku sangat kecewa,kenapa semua orang tega membohongi aku,kenapa semua nya harus dirahasiakan dari ku, apa aku tidak boleh merasakan apa yang sahabat ku rasakan. Orang tua dina berusaha untuk membuat ku mngerti kenapa mereka melakukan ini,Dimas pun turut menenangkan aku,akhirnya aku berusaha untuk bisa menerima penjelasan mereka. Setelah orang tua dina menjelaskan semua,mereka memberikan aku sebuah surat yang ditinggalkan dina untuk ku yang bertuliskan tinta biru,,



"Untuk sahabat ku,

maafkan aku jika saat kau membaca surat ini ,
aku tidak bisa ada di dekat mu lagi,
sungguh aku tidak pernah berniat untuk membohongi mu,
aku hanya ingin masa kecil kita diwarnai dengan kebahagiaan bukan kesedihan,

terima kasih karena kau telah membuat masa kanak-kanak ku berwarna.
aku melakukan ini untuk menguji persahabatan kita,
dan aku ingin engkau bisa terbiasa bermain dan menghabiskan masa remaja mu tanpa aku,

aku sangat bahagia bisa mempunyai sahabat kecil seperti mu.

Sahabat ku ,aku mohon jaga orang tua ku,
dan juga adik-adik ku.
aku juga menitipkan sebuah boneka kayu untuk mu,
tolong jaga boneka itu, dan jadikan boneka itu pengganti diriku..



Dari Sahabatmu, Dina ... "



* * *





sumber Cerpen : Sahabat,, Ternyata kau Telah lebih dulu Pergi . . .

gravatar

Cerpen : Cinta yang Tak Terpisahkan oleh Batu Nisan . .

Sekitar dua puluh tahun yang lalu, Ami sedang menjalankan semester terakhir dan berusaha menyelesaikan skripsi. Disaat itu pula, 2 minggu yang akan datang, Ami akan dipersunting oleh seorang pria yang bernama Fajar.
Ami dan Fajar telah berpacaran selama 7 tahun. Fajar merupakan teman SD Ami. Mereka telah kenal selama 14 tahun. Masa 7 tahun adalah masa pertemanan, dan kemudian dilanjutkan ke masa pacaran. Mereka bahkan telah bertunangan dan 2 minggu ke depan, Ami dan Fajar akan melangsungkan ijab kabul.
Entah mimpi apa semalam, tiba-tiba Ami dikejutkan oleh suatu berita.

suatu waktu, adik fajar datang menemui ami, dan berkata :

Adiknya Fajar : Mbak Ami, Mbak Ami. Mas Fajar…Mas Fajar….kena musibah!
Ami: Innalillahi wa inna illahi roji’un…

Saat itu Ami tidak mengetahui musibah apa yang menimpa Fajar. Kemudian sang adik melanjutkan beritanya…

Adiknya Fajar : "Mas Fajar…kecelakaan…dan..meninggal…"
Ami : "Innalillahi wa inna illahi roji’un . . ."

…dan Ami kemudian pingsan…
Setelah bangun, Ami dihadapkan oleh mayat tunangannya. Ami yang shock berat tak bisa berkata apa-apa. Bahkan tidak ada air mata yang mengalir.
Ketika memandikan jenazahnya, Ami terdiam. Ami memeluk tubuh Fajar yang sudah dingin dengan begitu erat dan tak mau melepaskannya hingga akhirnya orang tua Fajar mencoba meminta Ami agar tabah menghadapi semua ini.
Setelah dikuburkan, Ami tetap terdiam. Ia berdoa khusyuk di depan kuburan Fajar.
Sampai seminggu ke depan, Ami tak punya nafsu makan. Ia hanya makan sedikit. Ia pun tak banyak bicara. Menangis pun tidak. Skripsinya terlantar begitu saja. Orangtua Ami pun semakin cemas melihat sikap anaknya tersebut.
Akhirnya bapaknya Ami memarahi Ami. Sang bapak sengaja menekan anak tersebut supaya ia mengeluarkan air mata. Tentu berat bagi Ami kehilangan orang yang dicintainya, tapi tidak mengeluarkan air mata sama sekali. Rasanya beban Ami belum dikeluarkan.
Setelah dimarahi oleh bapaknya, barulah Ami menangis. Tumpahlah semua kesedihan hatinya. Setidaknya, satu beban telah berkurang.

* * *
*tiga bulan kemudian*

Skripsi Ami belum juga kelar. Orangtuanya pun tidak mengharap banyak karena sangat mengerti keadaan Ami. Sepeninggal Fajar, Ami masih terus meratapi dan merasa Fajar hanya pergi jauh. Nanti juga kembali, pikirnya.
Di dalam wajah sendunya, tiba-tiba ada seorang pria yang tertarik melihat Ami. Satria namanya.
Ia tertarik dengan paras Ami yang manis dan pendiam. Satria pun mencoba mencaritahu tentang Ami dan ia mendengar kisah Ami lengkap dari teman-temannya.
Setelah mendapatkan berbagai informasi tentang Ami, ia coba mendekati Ami. Ami yang hatinya sudah beku, tidak peduli akan kehadiran Satria. Beberapa kali ajakan Satria tidak direspon olehnya.

Satria pun pantang menyerah, sampai akhirnya Ami sedikit luluh. Ami pun mengajak Satria ke kuburan Fajar. Disana Ami meminta Satria minta ijin kepada Fajar untuk berhubungan dengan Ami. Satria yang begitu menyayangi Ami menuruti keinginan perempuan itu. Ia pun berdoa serta minta ijin kepada kuburan Fajar.
Masa pacaran Ami dan Satria begitu unik. Setiap ingin pergi berdua, mereka selalu mampir ke kuburan Fajar untuk minta ijin dan memberitahu bahwa hari ini mereka akan pergi kemana. Hal itu terus terjadi berulang-ulang. Tampaknya sampai kapanpun posisi Fajar di hati Ami tidak ada yang menggeser. Tetapi Satria pun sangat mengerti hal itu dan tetap rela bersanding disisi Ami, walaupun sebagai orang kedua dihati Ami.

Setahun sudah masa pacaran mereka. Skripsi Ami pun sudah selesai enam bulan yang lalu dan ia lulus dengan nilai baik. Satria pun memutuskan untuk melamar Ami.
Sebelum melamar Ami, Satria mengunjungi kuburan Fajar sendirian. Ini sudah menjadi ritual bagi dirinya. Disana ia mengobrol dengan batu nisan tersebut, membacakan yasin, sekaligus minta ijin untuk melamar Ami. Setelah itu Satria pulang, dan malamnya ia melamar Ami.
Ami tentu saja senang. Tapi tetap saja, di hati Ami masih terkenang sosok Fajar Tercinta. Ami menceritakan bagaimana perasaannya ke Satria dan bagaimana posisi Fajar dihatinya. Satria tetap menerima semua itu dengan lapang dada. Baginya, Ami adalah prioritas utamanya. Apapun keinginan Ami, ia akan menuruti semua itu, asalkan Ami bahagia.
Ami pun akhirnya menerima lamaran Satria.

* * *
*beberapa bulan setelah menikah*

Di rumah yang damai, terpampang foto perkawinan Ami dan Satria. Tak jauh dari foto tersebut, ada foto perkawinan Ami ukuran 4R. Foto perkawinan biasa, namun ada yang janggal. Di foto tersebut terpampang wajah Ami dan Fajar.
Ya, Ami yang masih terus mencintai Fajar mengganti foto pasangan disebelahnya dengan wajah Fajar. Foto itupun terletak tak jauh dari foto perkawinan Satria dan Ami. Sekilas terlihat foto tersebut hasil rekayasa yang dibuat oleh Ami. Namun Satria mengijinkan Ami meletakkan foto tersebut tak jauh dari foto perkawinan mereka.
Bagaimanapun Ami tetap akan mencintai Fajar sekaligus mencintai Satria, suami tercintanya. Dan Satria merupakan pria yang memiliki hati sejati. Baginya, cinta sejatinya adalah Ami. Apapun yang Ami lakukan, ia berusaha menerima semua keadaan itu. Baginya tak ada yang perlu dicemburui dari Sebuah Batu Nisan. Ia tetap menjalankan rumah tangganya dengan Harmonis hingga saat ini…


Note Of Story :Tentu rasanya sulit ditinggalkan oleh orang yang sudah membekas dihati.
Akankah ada pria-pria seperti Satria? semoga banyak pria yang akan tetap setia kepada seorang wanita, menerima mereka apa adanya. ^_^..




gravatar

Artikel : JanganLah kita Menyesal, Seperti seorang tukang Kayu . . .

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan kontruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut kepada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada si tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk miliknya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia Cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.

Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik.
Sungguh sayang ia harus mengakhiri karirnya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahan itu datang melihat rumah yang dimintainya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu.
“Ini adalah rumahmu“ katanya Pemilik perusahaan”hadiah dari kami”..

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesal. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah hadiah untuk dirinya, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi dalam kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik.

Pada akhir perjalanan, kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadari sejak semula, kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.


Renungkanlah rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. ^_^..

Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup kita esok adalah akibat dari sikap dan pilihan yang kita perbuat di hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan. :')





gravatar

Cerpen : Ayah S'lalu Memberikan yg terbaik untuk Anaknya . .

Ada seorang ayah yang mempunyai anak. Ayah ini sangat menyayangi anaknya. Mreka Hidup Berdua karena sang Ibu telah lama pergi mendahului.. Di suatu weekend, si ayah mengajak anaknya untuk pergi ke pasar malam. Mereka pulang sangat larut. Di tengah jalan, si anak melepas seat beltnya karena merasa tidak nyaman. Si ayah sudah menyuruhnya memasang kembali, namun si anak tidak menurut.

Benar saja, di sebuah tikungan, sebuah mobil lain melaju kencang tak terkendali. Ternyata pengemudinya mabuk. Tabrakan tak terhindarkan. Si ayah selamat, namun si anak terpental keluar. Kepalanya membentur aspal, dan menderita gegar otak yang cukup parah.

Setelah berapa lama mendekam di rumah sakit, akhirnya si anak siuman. Namun ia tidak dapat melihat dan mendengar apapun. Buta tuli. Si ayah dengan sedih, hanya bisa memeluk erat anaknya, karena ia tahu hanya sentuhan dan pelukan yang bisa anaknya rasakan.

Begitulah kehidupan sang ayah dan anaknya yang buta-tuli ini. Dia senantiasa menjaga anaknya. Suatu saat si anak kepanasan dan minta es, si ayah diam saja. Sebab ia melihat anaknya sedang demam, dan es akan memperparah demam anaknya.

Di suatu musim dingin, si anak memaksa berjalan ke tempat yang hangat, namun si ayah menarik keras sampai melukai tangan si anak, karena ternyata tempat ‘hangat’ tersebut tidak jauh dari sebuah gedung yang terbakar hebat.

Suatu kali anaknya kesal karena ayahnya membuang liontin kesukaannya. Si anak sangat marah, namun sang ayah hanya bisa menghela nafas. Komunikasinya terbatas. Ingin rasanya ia menjelaskan bahwa liontin yang tajam itu sudah berkarat, Namun apa daya si anak tidak dapat mendengar, hanya dapat merasakan. Ia hanya bisa berharap anaknya sepenuhnya percaya kalau ayahnya hanya melakukan yang terbaik untuk anaknya.

Saat-saat paling bahagia si ayah adalah saat dia mendengar anaknya mengutarakan perasaannya, isi hatinya.

Saat anaknya mendiamkan dia, dia merasa tersiksa, namun ia senantiasa berada disamping anaknya, setia menjaganya.

Dia hanya bisa berdoa dan berharap, kalau suatu saat Tuhan boleh memberi mujizat.

Setiap hari jam 4 pagi, dia bangun untuk mendoakan kesembuhan anaknya. Setiap hari.

Beberapa tahun berlalu. Di suatu pagi yang cerah, sayup-sayup bunyi kicauan burung membangunkan si anak. Ternyata pendengarannya pulih! Anak itu berteriak kegirangan, sampai mengejutkan si ayah yg tertidur di sampingnya. Kemudian disusul oleh penglihatannya. Ternyata Tuhan telah mengabulkan doa sang ayah. Melihat rambut ayahnya yang telah memutih dan tangan sang ayah yg telah mengeras penuh luka, si anak memeluk erat sang ayah & menangis, sambil berkata : "Ayah, terima kasih ya, selama ini engkau telah setia menjagaku." ...^,_^ . . .




gravatar

Cerpen : Sepasang Bola Mata & Pelangi Tanpa Warna . . .

Ada yg Baru Lagi Nich dari Rachel, Cerpen yg berjudul :

"Sepasang Bola Mata & Pelangi Tanpa Warna”


ceritanya Lumayan sedih, cukup terharu, dan ada unsur perpisahan dengan tmen di akhir endingnya & akhirnya ia bisa melihat lagi,,
 yukk lihat selengkapnya . . :)


* * *
Di malam yang dingin.. seorang gadis bernama ‘may’ duduk termenung ditemani sketch book nya yang berisikan semua gambar sketsa manusia. Semua gambar itu hanya di shadding menggunakan black-white dan tidak di’coloring. Ia terus menerus meraba gambar itu sambil bersedih.

“Aku ngin sekali memberikan warna berbeda pada gambar ini. Aku ingin mewarnai dengan color pencilatau water color. Tapi aku tidak bisa..” meskipun ‘may’ terlihat sama dengan anak sebayanya, namun ada sesuatu yang tidak ia miliki.

Seseorang wanita berperawakan tinggi dan agak gemuk berdiri di depan pintu kamar gadis dengan rambut hitam ikal yang terurai sebahu. Orang itu mendekati may dan berkata, “kamu belum tidur?” dengan nada pelan dan sedih may berkata, “ nanti saja, ma.. may belum mengantuk”.

Seorang yang disebut mama oleh may, meninggalkan kamar itu dengan perasaan bersedih karena anak yang ia sayangi juga sedang bersedih. Mama may menuju kamarnya dan langsung mengunci rapat-rapat pintu kamarnya sambil menahan air mata kesedihannya.

“Seharusnya aku saja.. bukan may yang mengalaminya.. “ sang mama menangis sambil menahan  rasa sesak dihatinya yang sudah tidak terbendung lagi karena terus memikirkan anak kesayanggannya yang tidak bisa membedakan warna. Ya, may adalah seorang anak yang dibesarkan tanpa dapat melihat warna dunia. Ia ‘buta warna’.


Disekolahnya, may memang tergolong anak yang sulit bersosialisasi dengan anak lainnya. Ia merasa minder dan malu untuk berbicara kepada yang lainnya, karena may tidak mau kekurangganya diketahui oleh orang lain. Sampai suatu saat, Ibu guru seni budaya menyuruh semua murid untuk menggambar bebas dan diwarnai menggunakan color pencil atau crayon.

Seorang anak dengan rambut kuncir dua, orang yang duduk disebelah kanan may memperhatikan cara may menggambar sampai ia memmberi shadding. “May, kamu kok gambarnya hanya hitam putih..? kenapa tidak diberi warna lain?”, Tanya anak itu dengan wajah bingung.

“A..aku memang tidak mau memberi warna yang lain, nana. Aku lebih suka warna hitam dan putih”. Jawab may lancar menutupi kekurangganya. May mungkin bisa menghindar dari pertanyaan simpleyang diajukan nana, namun si pembuat masalah di kelas itu, Anthony, atau yang biasa disebut ‘an’datang menghampiri may.


“Kamu lagi gambar apa sih..? sini biar aku liat gambarmu. “ , an langsung merampas buku gambar yang ada di atas meja dan memamerkannya ke seluruh anak di kelas itu. Ia mengangkat  buku gambar itu tinggi-tinggi sehingga may tidak bisa menjangkaunya.

“An.. balikin.. sini buku gambarku..!!”

“mana mungkin aku kembalikan padamu? Gambar jelek begini juga.. apa-apaan nih..? apa ini pelangi? Tapi kenapa tidak ada warnanya? Aneh sekali sih..” an bersikeras tidak mengembalikan buku gambar itu pada may.
May hanya tertunduk malu melihat karyanya menjadi bahan tontonan anak satu kelas.

Setiap anak mulai berbisik satu dengan yang lain. Mereka bertanya-tanya alasan may membuat gambar pelangi hitam-putih dan tidak diberi warna. Mereka curiga kalau sebenarnya may itu buta warna. Mereka semua sepakat untuk memberikan test kepada may menggunakan pensil warna. Budi, atau yang akrab dengan sebutan bubu lah yang mengajukan pertanyaan.

May, menurut kamu, ni warna apa ya? Teman-teman bilang ini warna hijau. Kalau menurut kamu ini warna apa?”, pertanyaan yang diajukan bubu memang membuat may bingung harus menjawab apa. Sebenarnya pensil yang dipegang bubu itu melambangkan warna langit, warna air di laut, warna itu warna biru.


“Itu warna hijau kok, bubu. Benar kata yang lainnya.. ehehe..” butir-butir keringat mulai keluar dari kelenjar may. Rasa takut pun mulai timbul.

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAAAA…..May Buta Warna…” serentak seluruh anak dikelas itu mentertawainya dan udah pasti, may di claim buta warna beneran oleh anak satu kelas termasuk teman sebangkunya sendiri. Tetapi hanya ada satu anak yang tdak tertawa, An hanya terdiam kaku. Ia menyesali akibat perbuatan isengnya may menjadi bahan ledekan anak satu kelas. May yang hancur hatinya menerima berbagai hinaan dari teman-temannya “eh.. pantes, gambarnya ngak pernah di warnain ternyata buta warna toh..”  may hanya berlari sambil menutup kedua telinganya dengan tangannya. Ada juga yang menghinanya, ”anak cacat..! sebenarnya bagaimana perasaanmu? Sudah 12 tahun hidup di dunia tanpa warna..? kalau aku seperti itu, aku sudah lama bunuh diri..” may hanya meneruskan langkahnya menuju pintu keluar kelasnya. “May, kutuk saja orang tua’mu karena membuatmu terlahir seperti ini..!” may menguatkan dirinya dan tidak menggubris perkataan teman-temannya.

“kenapa harus aku.. kenapa aku yang mengalaminya, bukan mereka.. Mereka hanya bisa menghinaku tanpa tau perasaan ku..” may terus berlari sampai keluar pintu gerbang sekolahnya. Tanpa sadar, seorang anak laki-laki juga berlari mengejarnya. “Tu.. tunggu, may..” teriak anak itu, dengan usahanya, ia bisa menghentikan may yang berlari kencang.

“Mau apa kamu? Sudah cukup.. apa kamu puas mempermalukanku didepan semua orang? Kamu ngak tau rasa sakit ku menahan seluruh hinaan ini.. karena kamu ngak mengalaminnya, Anthony.” Anthony hanya menatap may dengan perasaan bersalahnya. Ia menyeberang jalan dengan tatapan mata kosong dan tanpa ekspresi. Sesekali ia menoleh may, “Maaf, may.. maaf telah membuat mu bersedih. “ Selesai An mengucapkan kata itu, sebuah mini truk yang melaju kencang tidak kuasa menginjak rem dan Anthony tertabrak. Sopir yang menabrak’ melarikan diri. Anthony hanya dibiarkan tergeletak ditengah jalan sambil berlumuran darah.


“A.. Anthony..  kamu ngak apa-apa? Maafkan aku.. maaf telah membuatmu seperti ini. Maaf..” may menghampiri sosok anak lelaki yang tergulai lemas bersimbah darah di tengah jalan dekat pintu gerbang sekolahnya. Siswa-siswi langsung berhamburan keluar pagar untuk menyaksikan kejadian tragis ini. Para guru sibuk mencari bantuan dan memanggil ambulance untuk menyelamatkan nyawa Anthony.

“May, maaf membuatmu menangis dan bersedih.. maaf aku pada awalnya hanya iri dengan’mu. Kau menggambar dengan sangat bagus, walaupun hanya hitam-putih. Aku tak bisa melakukannya, tapi.. sekarang aku dapat menjukkan kepadamu pelangi yang sesungguhnya. Lihat itu.. dibalik awan hitam itu terdapat lekukan indah yang membentang.” Sesudah mengatakan hal itu, An langsung memejamkan matanya.

“Pelangi.. tetapi, aku hanya bisa melihatnya tanpa warna.” May menangis sekeras-kerasnya. Seluruh siswa menyakskan kejadian itu sambil menangis terharu dan bersedih, semua teman sekelas may yang ada disana ikut menyaksikannya, mereka menyesali apa yang telah mereka lakukan. Anthony pun segera dibawa oleh tim medis menggunakan ambulance ke RS terdekat untuk diberikan pertolongan.  Setelah 2 hari lamanya, Anthony dan May menjadi sosok yang diperbincangkan di sekolah.


 Setelah lulus dari sekolah menengah pertama, May melanjutkan sekolahnya ke tingkat sekolah menengah umum, disana ia lebih aktif mengikuti berbagai kegiatan. Ia juga sering menjadi motivator dalam seminar-seminar antar sekolah. Banyak orang yang merasa  hidupnya lebih beruntung dari may, oleh sebab itu, banyak orang yang lebih mensyukuri apa yang ia dapat daripada memikirkan kelebihan-kelebihan orang lain yang tidak dimilikinya.

“Ke.. kenapa ini.. kok buram..?” may mengucek-ngucek kedua matanya sambil keheranan. “kamu kenapa?” Tanya seorang guru yang mendampingi may ikut dalam seminar.

“e..enggak tau, bu. Mata saya buram.. kenapa sekarang semuanya gelap..? aku ngak bisa melihat apa-apa?”.

Setelah melalui beberapa tahapan pemeriksaan, may di-diagnosis oleh seorang dokter ahli mata menderita kebutaan. May yang kala itu mengetahui keadaannya, langsung shock dan tidak bisa menerimanya.. ia menangis sekuat tenaga.
Didampingi oleh mama’ tercintanya, may mengeluarkan seluruh keluh kesah dan kegundahan dalam hatinya.

ma.. may sekarang buta. May sudah jadi anak yang ngak berguna buat mama..may terima kalau mama kesal punya anak seperti may..” mendengar sang anak tercintanya berbicara seperti itu, mama pun menjawab dengan belaian lembut dan uraian air mata,

 “mama bangga punya anak seperti kamu. Tidak akan ada anak lain yang seperti kamu..” setelah itu, mereka berpelukan sambil menangis.


      Pasien lain, diruangan sebelah may, merasa tersentuh hatinya dan menghampiri Ibu dan anak yang sedang berpelukan.

“Maaf, menggangu, saya pasien ruang sebelah, saya merasa tersentuh mendengar perkataan kalian.” Mama may hanya tersenyum menanggapi perkataan laki-laki yang sebaya dengan anaknya itu.
“su.. suara ini.. aku pernah mendengarnya.. kamu, Anthony kan? Teman smp’ ku?” Tanya may pada orang di sudut ruangan itu. “May?” Anthony adalah pasien kanker otak stadium akhir yang juga dirawat di RS yang sama dengan may. Keduanya mulai akrab dan saling mengobrol, akan tetapi, Anthony tidak menceriakan tentang penyakitnya pada may, karena takut membuatnya semakin bersedih.

Tibalah hari kepulangan may, dokter yang menangani may beranggapan bahwa may masih bisa melihat lagi dengan mencari seorang donor mata, karena ada kemungkinan mata may itu rusak, karena may tidak buta sejak lahir, mungkin harapannya untuk melihat lagi masih ada.

  Saat itu, Anthony sedang kritis, sedangkan May yang bersiap akan pulang, mendengar percakapan dokter yang menangani Anthony bahwa ‘an’ telah meninggal. Kedua orang tua Anthony bersedih mengantar kepergian anaknya dengan isak tangis yang mendalam.

May menghampiri mereka dan bertanya apa semua ini benar. Mereka hanya mengangguk dan memberi tau may kalau satu hari sebelum Anthony meninggal, ia akan menyerahkan kedua bola matanya pada may. May hanya berdiri mematung dan menangis tanpa suara. Saat itu juga, orang tua Anthony turut mendampingi may dalam menjalani operasinya.

Sesudah operasi, Orang tua Anthony menyerahkan buku gambar may yang dulu dirampas oleh an kepada may.
Beberapa hari kemudian, saat perban di kedua mata may dibuka, sang mama terus mendampingi may.

ma, kalau aku buta selamanya bagaimana? Apakah mama tidak malu punya anak seperti aku?” sang mama miris hatinya saat putri kandungnya berbicara seperti itu padanya.

May, apapun hasinya nanti, semuanya sudah mama pasrahkan dalam tangan kuasa Tuhan. Mama tidak akan malu, karena punya anak seperti kamu.. kamu adalah anak mama satu-satunya harta mama yang paling berharga.” Setelah mengucapkan kata itu, dokter membuka penutup mata may dan menyuruhnya membuka mata secara perlahan-lahan.

“ngak terlihat apa-apa dokter.. kenapa semuanya masih gelap? Ataukah karena aku memang tidak dapat melihat lagi..?” may yang mendapati harapannya ‘kan sia-sia berlari walau ia tidak melihat, ia masih bisa menggunakan tongkat nya.

“Nggak adil.. kenapa harus aku..?” may mulai bertanya-tanya terutama pada dirinya sendiri.

“may.. tunggu mama.. kamu mau kemana..?!” sang mama mengejarnya dengan susah payah dan tidak mendapati anak itu.

“hiks.. hiks..” tangis may mulai terdengar dari bawah pohon besar di taman RS itu. Saat itu sedang gerimis. Awan mendung menutupi matahari. Tapi seketika itu juga hujan berhenti. Pelangi pun mulai menampakkan keberadaannya.

“a…apa itu.. ?!?” may menatap ke arah langit yang dilihatnya samar-samar. Ia pun akhirnya dapat melihat pelangi. Tetapi pelangi itu berwarna cerah dan tidak hitam-putih. Ia menangis bahagia, tetapi juga bersedih atas keberhasilannya untuk melihat lagi dan teman SMP’nya Anthony yang rela menyerahkan kedua bola mata yang dapat membuat may menjadi dapat melihat lagi. Terutama dengan warna indah dunia.

Anthony, terimakasih banyak.. berkat  sepasang bola mata yang kau berikan padaku, aku dapat melihat  lagi.. Sekarang aku bisa melihat indahnya warna dunia. dengan sepasang bola mata yang kau berikan ini, Sekarang aku dapat melihat pelangi dengan berbagai warna.. 

* * *



gravatar

Cerpen : Aku Selalu Dengan-Mu, Tidak Akan Pernah Meninggalkanmu..

Cerpen Kiriman dari teman qta, Rachel,.
ceritanya cukup mengharukan, di awala perjanjian samapai endingnya perpisahan . .
silahkan dibaca yaa ^_^
* * *



     “Mario, apa kau akan meninggalkanku suatu saat nanti..?” , Tanya seorang adik kepada kakaknya.

    “Kenapa kau tanyakan hal itu, marina? Itu sudah pasti.. Kamu kan tau jawabannya”. Jawab sang kakak sambil memegang pundak adiknya, lalu ia duduk di rerumputan, tepatnya di halaman rumah mereka.

Mereka adalah kakak beradik. Banyak orang yang beranggapan kalau mereka adalah anak kembar, karena wajah mereka sangat mirip dan perbedaan usia mereka hanya satu tahun.

jadi..”, marina tak’ mengerti jawaban kakaknya. Mario hanya tersenyum kecil dan memandang ke arah langit luas, sambil merebahkan tubuhnya di rerumputan dan menyanggah kepalanya dengan kedua tangannya. “Aku sudah ditakdirkan menjadi kakak’mu, tentu saja aku tidak akan pernah meninggalkanmu”. Mendengar perkataan kakaknya, marina sadar dan mengerti kalau persaudaraan lebih penting dari apapun.


“Ini untuk’mu, pakailah..”, Mario memberikan kalung dengan bandul lingkaran yang menyerupai uang logam dengan lubang ditengahnya kepada marina. “Kalung ini adalah kalung~ku. Aku ingin kau memakainya. Ini adalah janjiku padamu. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku harap kau mengerti”. Marina terharu dan tak lagi bertanya tentang hal apapun, ia hanya diam dan membisu. Mario pun memeluk adiknya dengan pelukan hangat.


“Kalian sedang apa disana? Ayo masuk! Ibu sudah membuatkan makan siang”.Sang  Ibu mengintipanaknya dari jendela besar sebelah pintu masuk rumahnya. Mereka adalah keluarga kecil yang bahagia. Hanya ada Ibu, Mario dan Marina saja.
Ayah sudah meninggal saat Mario berusia 9 tahun dan marina 8 tahun.

Hari-hari yang dilalui keluarga kecil yang tinggal dipinggiran kota ini memang sungguh dilalui dengan kebahagiaan, walaupun kehidupan mereka yang sangat sederhana dengan Ibu yang bekerja paruh waktu, Ibu bekerja dimalam hari,sedangkan disiang hari ia disibukan dengan berbagai kegiatan rumah tangga, termasuk mengurus Mario dan marina.

    “Mario, marina.. Ibu berangkat kerja dulu ya, kalian jaga rumah baik-baik”. Kedua anak’nya mengantar sang Ibu sampai ke depan rumah, tetapi seseorang dengan berpakaian rapi, mengenakan kemeja putih dan dasi abu-abu yang dipadukan dengan jas berwarna hitam sudah menanti di pintu keluar.

T.. Thomas..?  apa yang membuat kamu datang kesini?” Ibu mempersilahkan tamu yang berdiri didepan pintu itu masuk kerumah. Mario dan marina hanya menatap tamu itu dengan wajah keheranan. “Ibu, siapa dia..?”, Tanya sang kakak kepada Ibunya yang tengah menyuguhkan minuman kepada orang berpakaian rapi itu.

“Begini, maksud kedatanganku kesini untuk mengambil kembali Mario. Aku ini ayah kandungnya. Mary, aku harap kau mengerti. Aku tau, berat bagimu untuk membesarkan mereka seorang diri”. Thomas adalah mantan suami Mary, tetapi marina adalah anak dari Mary&Bill, suaminya yang sudah meninggal.


“ka.. kakak, apa kau akan ikut bersamanya? Kau kan’ sudah berjanji padaku untuk tidak meninggalkanku.. Kak, tetaplah disini bersamaku..”, marina menggenggam erat tangan Mario seolah tak ingin melepaskan’nya. “Aku akan tetap bersamamu, Marina. Tuan, ayah saya sudah meninggal saya tidak akan ikut bersamamu!! Aku akan tetap disini..!!”, mendengar perkataan itu, Thomas marah dan membawa Mario dengan paksa. “Lepassssssssskann akuuuuuuuu…

“Thomas, lepaskan dia.. Dia anak’ku..”, Ibu terus berusaha untuk menahan Mario yang berada dipelukannya. “Dia juga anak’ku.. kau sudah sekian lama bersamanya, sedangkan aku sudah sekian lama berpisah dengannya. Dia anak’ku.. Aku berhak memberikan penghidupan yang layak untuknya! Jadi lepaskan dia.. Biarkan aku yang mengurusnya!”, Mario berhasil dibawa secara paksa oleh Thomas.

Kakakkkkkkk…….

“Marinaaaaaa….” Akhirnya kakak dan adik itu harus dipisahkan dengan kenyataan bahwa mereka adalah kakak beradik berbeda ayah.

* * *
Delapan tahun pun berlalu. Mario dibesarkan oleh Thomas dan diberikan penghidupan yang layak. Thomas membuat Mario melupakan segalanya tentang masa lalunya. Thomas juga merubah nama Mario menjadi ‘Rio’ supaya marina dan Ibunya tidak mengenalinya. Rio dididik secara keras, sehingga ia menjadi sosok yang dingin, tidak ramah dan cuek.

Sedangkan adiknya, Marina hanya dibesarkan dikeluarga sederhana. Ibunya tidak lagi bekerja karena sakit keras yang dia alami. Hal itu yang membuat marina harus bekerja sambilan menjadi sebuah pelayan di café milik temannya.

“Hana, kamu kesini lagi..”, sapa marina kepada hama si pemilik café. “Aku ngak sendiri loh.. aku membawa seseorang”, hanna memamerkan seorang cowo berperawakan tinggi dan berbadan kurus serta memakai kacamata tebal kepada marina.  “Marina, kenalin.. ini Drew, pacar baru aku..”, hanna memperkenalkan pacar barunya kepada temannya, marina.

“Hallo,  aku drew”, sambut drew dengan tangan kanan menjulur.  “Aku marina, slam kenal..”, marina menyambut tangan drew. Mereka mulai mengakrab’kan diri dan mulai mengobrol satu dengan yang lainnya. Hanna merasa kalau pacar barunya lebih akrab dengan marina, sedangkan kalau bersamanya hanya bicara sepatah – dua patah kata saja. Marina dan drew asyik mengobrol, sehingga tak menghiraukan hanna yang pulang dengan kesal.


“Ih… B.E.T.E.. betee… bête.. nyebelin banget sih.. aku yang ngenalin drew ke marina ehh.. malah aku yang dicuek’in. Sok asyik sendiri sih mereka..! uuh..”, hanna yang tiba dirumahnya langsung membanting pintu rumahnya untuk melampiaskan kekesalannya. “BERISIKKKKKKKKKKKK…. Bisa diem ngak- lo!!”, teriak seseorang dari dalam kamar itu dan langsung menghanpiri hanna dengan langkah seperti orang mabuk.


Kak.. kak angga.. kenapa sih kakak masih pakai Obat terlarang itu? Kak, Narkoba itu dapat merusak syaraf di otak kakak..”,hanna menatap kakak’nya sambil menangis. Ia sadar, kalau narkoba adalah pelarian kakak’nya. Angga mengenal narkoba sejak 5tahun lalu, saat dirinya tau bahwa ia yang menyebabkan kedua orang tuanya meninggal, ia stress berat dan memakai Narkoba. “Minggir..! lo itu masih kecill.. Ngak tau apa-apa.. jadi pergi sana!!”, angga yang sempoyongan itu terjatuh dan tertidur di depan pintu masuk rumahnya. Hana yang kala itu menangis, mulai megnhapus air matanya dan membopong kakak’nya menuju kamar kakak’nya.

* * *

Hari baru sudah dimulai.. Kicauan burung dan gesekan dedaunan yang ditiupkan oleh angin membuat sejuknya pagi hari mengantar kedatangan matahari dari ufuk timur. “Hanna, kamu marah ya..?”,Tanya marina dengan halus pada teman sebangkunya. “Nggak kok, nggak marah!”, jawab hanna dengan nada ketus. Setelah mereka mengobrol, dan lumayan agak lama, Pak guru  datang memasuki ruang kelas untuk memulai pelajaran, Guru itu memperkenalkan seseorang kepada para siswa,“Ayo, perkenalkan dirimu..”.

Para siswi terkesima dengan ketampanan si-anak baru itu. “Nama saya Rio. ”,  Ada yang berkata,”ihhh… gantengg banget.. pindahan dari mana tuh?”. Ada juga yang bilang,”Keren.. cool abiss..”. Pak Guru menyuruh anak baru itu duduk di bangku kosong di sebelah marina&hanna, dan membuat semua orang ‘jealous’ dengan marina.
Seluruh anak perempuan dikelas itu membicarakan anak pindahan itu sampai bel istirahat.

 Saat iastirahat, si anak baru itu kebingungan mencari letak kantin sekolah.  “Kamu kenapa? Dari tadi mondar~mandir melulu? Nggak ke kantin?”, anak itu hanya terdiam dan melihat marina dengan sinis, lalu pergi begitu saja.

 Saat bel pulang, si anak baru itu tidak langsung pulang, ia mengunjungi ruang UKS “Permisi, ugh.. aku ingin meminta o..obat”. dengan nafas yang terenggah-enggah dan tangannya memegang dada sebelah kiri.

“Kamu kenapa? Apa yang sakit..?!”, marina adalah salah satu petugas UKS yang pulang agak lama, karena hari ini adalah hari liburnya dari pekerjaannya sebagai pelayan di café milik hanna. “Argh.. to..tolong.. berikan aku obat.. obat apa saja yang bisa meredam rasa sakit, cepat.. ugh..”, rio berusaha untuk menahan rasa sakitnya.

“i..ini..”, setelah diberikan obat itu, Rio langsung menelannya tanpa air. “Kamu sakit apa? Sini biar aku’ periksa keadaanmu”, marina langsung membuka seragam Rio untuk memerikasanya, Rio tak’kuasa untuk mencegahnya. Marina melihat sebuah alat terpasang di dada sebelah kiri Rio.  “i..ini alat a..apa?? Apa penyakit kamu sebenarnya?”, Tanya marina pada orang itu dengan mengerutkan kedua alisnya.


“Lepaskan..!! sekarang sudah lebih baik! Aku pergi dulu..!!”, marina membiarkan air matanya terjatuh. Ia menyadari kalau sebenarnya sifat Rio yang dingin itu karena Rio tidak mau kalau penyakitnya diketahui oleh orang lain.

Hari mulai sore, marina bersiap untuk pulang kerumah.  Saat akan melangkahkan kaki untuk keluar dari pintu gerbang sekolah, seseorang dengan motor ninja-red menantinya didepan gerbang dengan tanpang jutek. “Kenapa lama sekali sih..? Apa yang kamu lakukan disana?”, Tanya orang yang duduk diatas motornya sambil mengenakan helm.

 “Rio? Kamu belum pulang..?”, Rio menunggu marina karena ia tidak mau kalau rahasia tentang penyakitnya itu diketahui oleh orang lain. Rio mengantar marina pulang, rumah marina sudah berbeda dengan yang dulu. Sekarang marina dan Ibunya menyewa sebuah rumah kecil di pinggir jalan yang dijadikan tempat usaha.“Thanks yah.. Sudah cepat sana pulang..! udah sore nih..!!”

“Udah dianterin ampe rumah,, eh.. sekarang ngusir. Heh anak jelek, aku sebenarnya tidak ingin berbaik hati padamu.. Karena rahasia besarku soal penyakit jantung’ ku ini sudah ketauan olehmu, aku ngak mau kalau sampai orang lain mengetahuinya juga!”, Rio langsung menegaskan semuanya. Marina  hanya mengangguk setuju dan masuk ke dalam rumahnya.

“Tadi itu siapa? Teman’mu kan? Kenapa tidak disuruh masuk duli, marina?”, Sang Ibu duduk bersandar di kursi sambil menangguk obatyang harus ia minum secara rutin. “Dia itu jahat, Bu.. Jutek, judesh, sinis, dingin! Mana boleh dia masuk ke dalam rumah kita yang  begitu hangat ini..?”, Ibu hanya tersenyum kecil menatapi marina yang membuka pintu kamarnya dan masuk kedalamnya.

Selama satu minggu belakangan ini,setiap pagi  Rio selalu stand by di depan rumah  marina untuk berbaik hati padanya, Rio mengantar marina setiap hari, karena marina mengancam akan memberitahu kepada orang lain soal penyakit Rio.

Uwah… Gawatttt.. Kesiangannnn….”, dengan Grasak – Grusuk, marina mempersiapkan segala kebutuhan sekolahnya dan berpamitan pada Ibunda~tercintanya dan berangkat sekolah.

“Kesiangan yah..? Payah.. padahal aku sudah sejak pagi disini. Kalau tau begini tadi sarapan dulu.. huh.. udara disini dingin sekali..”,marina heran melihat Rio yang masih saja setia antar~jemput ia sekolah. “Cepett jalan.. nanti terlambat!!”, Rio langsung menjalankan perintah marina dan menuju sekolah. Akan tetapi, mereka terjebak macet dan terlambat. Akhirnya mereka berdua dihukum untuk mengepel seluruh teras kelas.

Heh.. jelek.. Kalau saja kau tidak kesiangan, kita ngak akan dihukum seperti ini.. Ini semua gara-gara kamu! Sebaiknya kamu saja yang bersihkan semua ini..!”, Rio melalaikan tugasnya dan kabur.  “Salahmu sendiri menjemputku.. Kan aku sudah bilang cukup satu minggu saja! Lagian aku ini bisa jaga rahasia..”, mereka saling ledek dan saling melempar kain pel. Pada akhirnya marina terjatuh. “a.. aduuh..”, Rio dengan cemberut mengulurkan tangannya kepada marina.

Ka.. kalung apa itu..?! bentuknya aneh sekali?”, saat ditanya seperti itu, raut wajah marina berubah dari kesal menjadi sedih. Ia teringat dengan kakak’nya Mario yang sudah lama berpisah dengannya. “a..au..  kenapa ini? Kepalaku sakit sekali..”, kali ini Rio memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Ia merasa sangat pusing dan pingsan. Marina membawanya ke UKS dan menunggunya sadar dengan wajah yang gelisah dan panic.


Semua orang sudah pulang, marina meminta izin untuk tidak masuk kerja hari ini. Hanna pun mengerti. Ia pulang kerumahnya dan didapatinya kakaknya sedang menengguk minum-minuman keras dan mabuk berat.

kak angga, aku sayang sama kakak.. kenapa kakak terus-terusan seperti ini?”, hanna memeluk kakak’nya yang sedang mabuk berat itu. “Brengsek!! Heh..anak kecil, tau apa kamu..?”, angga mendorong hanna sampai terjatuh. Ia pun langsung lari keluar rumah sambil menengguk minuman keras dari botol yg ia bawa dan mengambil balok kayu yang ada di halaman rumahnya.

Ditempat lain, Rio tersadar dari pingsannya. Ia tak ingat dengan apa yang terjadi. Ia mengantar marina pulang, akan tetapi ditengah jalan ia menemui orang mabuk yang menghalangi jalannya, tak sengaja, Rio menabrak orang mabuk itu.

Brengsek.. eh, turun lo!! “, karena orang mabuk itu menodongkan balok kayu, rio dan marina turun dari motor besar itu. “kamu kakak’nya hanna kan? Namamu angga?”, marina ternyata mengenal orang itu.

Siapa lo? Oh.. jadi elo yg udah ngebunuh orang tua gue..?”, angga melotot tajam ke arah marina dan memukulnya dengan botol minuman keras sampai botol itu pecah dan mengenai kepala marina. “ma.. marina.. eh kurang ajar lo! Beraninya Cuma sama cewe, ayo.. lawan gue..”, Rio spontan membela marina. Marina hanya kesakitan dan tersungkur dengan kepala bersimbah darah.  Angga yang ketakutan melayangkan balok kayu dari genggamannya ke arah Rio.  “Rio awas…   AARGHHHHHHHHHHH…”, marina mencoba melindungi rio dan membiarkan kepala bagian belakangnya terkena pukulan benda tumpul itu.

“ma..marina.. ngapain kamu melindungi aku?  Seharusnya aku yang menerima pukulan keras itu..?”, angga yang takut kalau kejadian itu diketahui oleh warga sekitar, langsung meninggalkan TKP.   “lebih baik aku dari pada kamu, Rio”.Marina pun tak sadarkan diri. Ia dibawa oleh Rio ke rumah sakit terdekat.

“Do.. Dokter, tolong selamatkan dia…”, Rio mengantar marina sampai ke ruang UGD. “Maaf, anda tidak boleh masuk, silahkan tunggu diluar! Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk kesembuhannya”. Dokter dan suster itu masuk kedalam UGD untuk menangani marina.

Kenapa seperti ini.. kenapa bukan aku saja.. kenapa harus marina. Tuhan, seharusnya aku yang ada disana.. aku harus memakai alat pemicu jantung untuk tetap hidup. Marina .. kenapa kamu harus menyelamatkan aku..? Aku ini bukan siapa-siapa kamu.. kenapa kamu rela sampai menyerahkan nyawa kamu hanya untuk melindungi orang ngak berguna seperti aku ini.. ini semua ngak adil…”, rio merasakan rasa sakitnya kambuh lagi.. kali ini ia merasa sedikit lebih pusing.

“A.. au.. kepalaku..”, Rio melihat sosok anak kecil yang mirip sekali dengan marina dalam serpihan ingatan masa lalunya. “Mario, apa kau akan meninggalkanku suatu saat nanti..?” . Mario juga melihat sosok anak kecil yang menyerupai dirinya ,“Kalung ini adalah kalung~ku. Aku ingin kau memakainya. Ini adalah janjiku padamu. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku harap kau mengerti”.

Angga yang ketakutan berusaha untuk melarikan diri dan bersembunyi. Ia masuk ke dalam rumahnya dan mengkonsumsi shabu dan narkotika untuk menenangkan dirinya, tetapi kali ini dosis yang ia konsumsi sangat banyak.


ha..ha..ha….  Ada orang yang terluka.. haha.. mungkin dia sudah mati..”, hanna yang mendengar perkataan kakak’nya langsung menjuju kamar kakak’nya. “Siapa yang mati kak..? Apa kakak membunuhnya? Kakak ini sungguh keterlaluan!! Cepat katakan padaku dimana orang itu..” hanna melihat dari mulut kakak’nya keluar busa putih.


kak.. kakak.. kakak’ kenapa?? Astaga.. Tolonggg…. Tolongg…”, spontan hanna meminta pertolongan kepada warga sekitar dan membawa kakaknya ke RS. Saat dalam perjalanan menuju rumah sakit, Angga sudah tidak dapat diselamatkan.  Ia meninggal. Hanna yang kala itu berada di Rumah sakit, melihat seseorang berpakaian putih abu-abu yang duduk di sudut lorong didepan salah satu ruang perawatan intensive. Orang itu adalah Rio. Hanna mendekatinya untuk meminta maaf atas kesalahan kakak’nya. “Rio.. bagaimana keadaan marina?”, hanna menghampirinya.

Dia belum sadar.  Marina itu adalah adik aku.  Walaupun ayah kami berbeda, tetapi dia adalah adik aku. Pendarahan yang ada dikepalanya cukup banyak, lukanya juga sangat serius. Dia diserang tepat dibagian Otak kecil, dan kemungkinan untuk sadar tuh kecil banget.. Seharusnya aku yang ada disana, bukan dia..”,  Rio tak kuasa untuk membendung kesedihannya. Ia terus menangisi keadaan adiknya.

“Rio, maafin kakak aku, karena dia marina jadi seperti ini. Aku tau memang aku ngak pantes bilang ini ke kamu, tapi seenggaknya aku ingin mengurangi beban perasaan bersalahku”. Keduanya menangis dalam jangka waktu yang cukup lama. Jam dinding di rumah sakit itu sudah menunjukkan pukul 21:00. Rio dan hanna masih terdiam kaku dengan isak tangis.

“Rio, kayaknya aku harus pulang” hanna berpamitan untuk pulang dan mempersiapkan upacara pemakaman untuk kakak’nya yang tewas akibat over dosis. “Mau kuantar..?”, Tanya rio. Tetapi hanna hanya menggelengkan kepala tanda tak mau.

Sudah seminggu ini marina tidak sadarkan diri. “Hei anak malas, sudah pagi.. ayo bangun!”, rio menyapa marina yang belum sadarkan diri sambil membuka jendela untuk sirkukasi udara. Rio menatap mata adiknya yang masih terpejam dengan matanya yang sumbab.

“Jangan sentuh dia!!”, seseorang tiba-tiba muncul di depan pintu kamar perawatan. “i.. ibu. Maaf, akibat menyelamatkanku marina jadi seperti ini.. maafkan aku.. “, Rio memeluk wanita itu. PLAK… sebuah tamparan keras dari ibu marina kepada Rio. “Seharusnya kamu yang ada di Ranjang itu.. Seharusnya kamu yang terluka.. Seharusnya kamu,  bukan anak saya..  marina itu satu-satunya anak saya.  Kamu sampai hati membuatnya seperti ini?! Memangnya dengan meminta maaf kamu bisa apa..?”, mendengar perkataan ibunya, Rio langsung menyerahkan diri dan sujud di hadapan ibunya.

 “Maaf, Mario yang salah Bu. Seharusnya Mario yang terluka bukan marina.. Mario rela menyerahkan nyawa Mario untu nya. Mario sayang, Bu sama Marina. Maskipun ayah kami berbeda, kami punya ibu yang sama. Mario juga sudah berjanji pada marina untuk tidak meninggalkannya. Tetapi marina malah menyelamatkanku. Ibu.. aku memang tidak pantas jadi anak’mu..”, sang ibu terkejut, ia mengangkat Mario dan menyuruhnya berdiri.

“Mario, apa kau tau.. setiap hari marina terus merindukanmu.. Dia selelu menyebut namamu didalam doanya..  dia sangat ingin bertemu dengan’mu, begitu pula dengan ibu. Sekarang Ibu dapat melihatmu lagi.. sudah lama sekali nak, maaf kalau Ibu tidak mengenalimu. Kalau ibu ada di posisi marina, ibu juga akan melakukan hal yang sama.. Ibu pasti akan menyelamatkan’mu”, sang ibu memeluk Mario dengan erat seakan tak mau melepaskannya lagi. “I..ibu……”, keduanya menangis melepas rindu dan berbagi kesedihan.

“ugh..”, jantung Rio yang lemah kembali merasa sakit, akan tetapi ia mencoba menahan rasa sakitnya supaya Ibunya tidak mengetahuinya. “Mario, kamu kenapa nak? Sakit..? Lebih baik kamu pulang saja, biarkan Ibu yang menjaga marina disini. Mungkin kau lelah, jadi perlu istirahat”, bujuk sang Ibu.

 “enggak usah, Bu! Mana mungkin aku bersantai-santai sedangkan marina bergulat dengan maut. Aku enggak mau.. a..aku..  ugh.. sakit..”, nafas Rio kembali terengah-engah, Ibu memeriksa keadaannya dan menemukan alat pemicu jantung yang terpasang di dada sebelah kiri anaknya itu. “ini alat apa, Mario?”, karena tak bisa mengelak lagi, Mario menceritakan hal yang sebenarnya pada Ibunya. Ibunya kembali bersedih melihat penderitaan kedua anaknya yang sedang bergulat dengan maut.

Ma.. Mario..”, seseorang berbicara pelan sekali, arah datangnya suara itu dari ranjang marina. Sang Ibu memanggil dokter dan Mario menghampiri adiknya itu. “Ma.. Marina, aku disini… aku Mario kakak kamu. Aku sudah berjanji’kan untuk tidak akan meninggalkanmu” marina pun tersenyum dan membalas perkataan kakak’nya.  “Mario, maaf.. sepertinya aku yang akan meninggalkanmu. Aku akan pergi.. jauh.. waktuku sudah tidak banyak lagi Mario.. “, Mario menitikkan air mata kesedihan mendengar perkataan adiknya itu.

Nggak boleh..!! kita sudah janji kan marina? Aku saja masih ingin bertahan hidup dengan jantung yang lemah dan alat pemicu jantung untuk tetap hidup.. kamu juga harus bertahan aku percaya kamu bisa melewati ini.. Marina, jangan tinggalkan aku..”,Mario menggenggam erat tangan marina seakan tak ingin melepaskannya.  “Kalau aku pergi, kamu boleh mengambil jantungku. Sejak kecil, aku belum pernah melihatmu berlari.. pasti kau tidak bisa melakukannya kan Mario? Itu semua karena jantungmu lemah..”

“Diam..!! kau ini bicara apa? Aku tidak butuh jantungmu! Aku dapat  bertahan sampai sekarang dengan alat ini”, Mario menunjukkan alat pemicu jantungnya kepada marina. “Mario, kalau jantungku ada padamu, aku akan selalu denganmu dan tidak akan pernah meninggalkanmu”. Sesudah mengucapkan kalimat terakhirnya, marina pergi dan tak-kan kembali lagi. Mario terus menangisi kepergian adiknya itu. Dokter dan Ibu hanya meratapi raga marina yang sudah pucat dengan senyuman manis yang mengiringi kepergiannya.

“kau sudah dengar kan Mario?”, bisik ibu disertai dengan pelukan hangat sang Ibu. “iya aku sudah mendengar permintaan terakhirnya untuk memberikan jantungnya untuk’ku. Tapi aku tidak bisa menerimanya, Bu.. Aku tidak menginginkannya..”, Mario berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan ibunya. “Mario.. dia ingin selalu denganmu..”.

“Tidak bisa.. aku tidak bisa menerimanya, walau Ibu tetap memaksa`ku untuk melakukan Operasi Pencangkokan jantung aku tetap tidak mau. Alasanku untuk tetap bertahan hidup adalah aku ingin mengingat masa lalu’ku. Sekarang, aku sudah mengingat semuanya.. orang yang aku sayangi sudah pergi jauh dan aku tidak dapat mejangkaunya lagi.. jadi untuk apa aku hidup, bu..? untuk apa aku ada disini?! Aku sudah berjanji untuk tidak meninggalkannya, tetapi dia.. dia..”, Mario tersungkur dan jatuh di lantai. “Mario.. bangun nak.. Ibu tak ingin kehilangan mu.. Ibu sudah kehilangan Marina, apakah kau akan meninggalkan Ibu juga? Mario.. “.Ibu terus memeluk anaknya yang tergeletak dilantai.

Mario sangat lemah dan tidak berdaya hingga harus dirawat di rumah sakit itu. Ia tidak sadarkan diri hampir dua hari lamanya. Dokter menganjurkan supaya operasi cepat dilaksanakan. Dipagi hari yang berembun dan disertai dengan rintik hujan, Mario berusaha untuk membuka matanya, dan ia sadar. “I..ibu..”,katanya.

“Mario, nak.. kamu sudah sadar, ibu akan penggilkan dokter dan perawat untuk mengecek keadaanmu”, tetapi Mario memegang tangan Ibunya dan berkata, “setiap hari dia merindukanku.. Dia selalu menyebut namaku di dalam doanya. Dia ingin aku ada disana untuk menemaninya..

Ibu, kalau aku pergi nanti, ibu tidak usah menangis.. aku dan marina tidak akan bahagia disana kalau melihat ibu yang menangis dan tidak merelakan kepergian ku. Biarkan aku pergi bersamanya, bu..  Izinkan aku menemaninya dalam kesendiriannya.. Relakan aku,  jangan tangisi kepergianku.. Aku senang sekali bisa melihat wajah ibu lagi setelah sekian lamanya kita terpisah. Ibu, aku sayang sekali sama ibu..


Sesudah  itu, mario hanya membisu.. ia mencoba tersenyum kepada ibunya yang menangis itu. Ia pun pergi dengan senyuman manis. Mario menepati janjinya untuk tetap bersama dengan Marina dan tidak meninggalkannya. Ibu berusaha untuk merelakan kepergian anaknya, tetapi tangis sang Ibu tetap mengantarkan kepergian mario. Thomas, ayah mario juga hadir dalam upaca pemakaman anaknya.

“Aku ada disini untukmu..   Aku bertahan hanya untukmu..

Aku  menahan rasa sakit dan tetap hidup sampai sekarang ini demi bertemu denganmu..

Kini kau pergi jauh..  Aku pun tak dapat meraihmu..

Ingin aku menggenggam tenganmu..  Tak ingin ku melepasmu
Hanyalah janji semata yang mengingatkanku padamu
Mengingatkanku pada kenangan masa lalu..

Dengarkanlah  seruanku..  Aku ingin selalu bersamamu..  Aku tidak akan pernah meninggalkanmu..

Itulah janjiku padamu.. Selamanya hanya denganmu..
* * *


~Mungkin seorang teman atau sahabat belum tentu ada di saat kita membutuhkannya. Tetapi, seorang saudara akan mengasihimu dengan tulus.  Seorang saudara pastilah menginginkan yang terbaik untuk saudaranya.  Kasih dan tali persaudaraan lebih erat dari apapun,  bahkan rela menyerahkan nyawanya untuk saudara yang ia kasihi.



gravatar

Cerpen : Gadis Cilik yg mencoret2 Mobil Sang Ayah . . .

        Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia 4 tahun.

Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

* * *

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan.

Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
 . . .

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja, karena ingin menghindari macet.

        Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
 . . ,

        Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya.

Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus Berteriak : “Kerjaan siapa ini !!!” ….

Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam penuh ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya.

Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya,
dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.”

“Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya.
Dengan penuh manja dia berkata : “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa..

Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya .

 Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.


Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa…

Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
* * *

        Dia terperanjat melihat telapak depan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah.
Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu.
Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.

* * *

Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak.Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.


       Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu.

Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah.

“Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas.

“Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu.

Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

* * *

        Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas.

“Sore nanti kita bawa ke klinik..

Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu.
Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik.

Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya Luka serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu.

“Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…

”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu.

Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya,
 si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan.

Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kain kasa putih.Ditatapnya muka ayah dan ibunya.
Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis.
Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.

“Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul.
Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.

“Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?…
Bagaimana Dita mau bermain nanti ?…

Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang.

Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya.
Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur.

Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…. . .

Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…,

Namun.., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan sang ayah.. ^_^..





gravatar

Cerpen : Ibu Buta yg Memalukan kehidupanku . . .

Saat aku beranjak dewasa, aku mulai mengenal sedikit kehidupan yang menyenangkan, merasakan kebahagiaan memiliki wajah yang tampan, kebahagiaan memiliki banyak pengagum di sekolah, kebahagiaan karena kepintaranku yang dibanggakan banyak guru. Itulah aku, tapi satu yang harus aku tutupi, aku malu mempunyai seorang ibu yang BUTA !


Matanya tidak ada satu. Aku sangat malu, benar-benar..


Aku sangat menginginkan kesempurnaan terletak padaku, tak ada satupun yang cacat dalam hidupku juga dalam keluargaku. Saat itu ayah yang menjadi tulang punggung kami sudah dipanggil terlebih dahulu oleh yang Maha Kuasa. Tinggallah aku anak semata wayang yang seharusnya menjadi tulang punggung pengganti ayah. Tapi semua itu tak kuhiraukan. Aku hanya mementingkan kebutuhan dan keperluanku saja. Sedang ibu bekerja membuat makanan untuk para karyawan di sebuah rumah jahit sederhana.


Suatu saat ibu datang ke sekolah untuk menjenguk keadaanku.

Tepat di saat istirahat, Kulihat sosok wanita tua di pintu Gerbang sekolah. Bajunya pun bersahaja rapih dan sopan. Itulah ibu ku yang mempunyai mata satu. aku malu dan yang lebih memalukan lagi Ibu memanggilku.


“Mau ngapain ibu ke sini? Ibu datang hanya untuk mempermalukan aku!” Bentakkan dariku membuat diri ibuku segera bergegas pergi. Dan itulah memang yang kuharapkan. Ibu pun bergegas keluar dari sekolahku. Karena kehadiranya itu aku benar-benar malu, sangat malu.


Sampai beberapa temanku berkata dan menanyakan.

“Hai, itu ibumu ya???, Ibumu matanya satu ya? Hahahahaha…” yang menjadikanku bagai disambar petir mendapat pertanyaan seperti itu.


Beberapa bulan kemudian aku lulus sekolah dan mendapat beasiswa di Sebuah Universitas Ternama di Jakarta,.

Di Sekolah itu, aku menjadi mahasiswa terpopuler karena kepintaran dan ketampananku. Aku telah sukses dan kemudian aku menikah dengan seorang gadis yg sangat Cantik.

Singkat cerita aku menjadi seorang yang sukses, sangat sukses. Tempat tinggalku sangat mewah, aku dikaruniai seorang anak laki-laki berusia tiga tahun dan aku sangat menyayanginya. Bahkan aku rela mempertaruhkan nyawa untuk putraku itu.


aku tak pernah memikirkan nasib ibuku. Sedikit pun aku tak rindu padanya, aku tak mencemaskannya. Aku BAHAGIA dengan kehidupan ku sekarang.


Tapi pada suatu hari kehidupanku yang sempurna tersebut terusik, saat putraku sedang asyik bermain di depan pintu. Tiba-tiba datang seorang wanita tua renta dan sedikit kumuh menghampirinya. Dan kulihat dia adalah Ibuku, Dia datang menemuiku.


Seketika saja Ibuku ku usir. dan Dengan Rasa Tak Berdosa aku mengatakan:

“HEY, PERGILAH KAU PENGEMIS. KAU MEMBUAT ANAKKU TAKUT!” Dan tanpa membalas perkataan kasarku, Ibu lalu tersenyum, “MAAF, SAYA SALAH ALAMAT”


Tanpa merasa besalah, aku masuk ke dalam rumah.

Beberapa bulan kemudian datanglah sepucuk surat undangan reuni dari sekolah SMA ku. Aku pun datang untuk menghadirinya dan beralasan pada istriku bahwa aku akan dinas ke luar negeri.


Singkat cerita, tibalah aku di Tempat Reuni. Tak lama hanya ingin menghadiri pesta reuni dan sedikit menyombongkan diri yang sudah sukses ini. Berhasil aku membuat seluruh teman-temanku kagum pada diriku yang sekarang ini.

Selesai Reuni entah megapa aku ingin sekali melihat keadaan rumahku ya dulu, Tak tau perasaan apa yang membuatku melangkah untuk melihat rumah kumuh dan wanita tua itu. Sesampainya di depan rumah itu, tak ada perasaan sedih atau bersalah padaku, bahkan aku sendiri sebenarnya jijik melihatnya. Dengan rasa tidak berdosa, aku memasuki rumah itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ku lihat rumah ini begitu berantakan. Aku tak menemukan sosok wanita tua di dalam rumah itu, entahlah dia ke mana, tapi justru aku merasa lega tak bertemu dengannya.


Bergegas aku keluar dan bertemu dengan salah satu tetangga rumahku. “Akhirnya kau datang juga. Ibu mu telah meninggal dunia 3 hari yang lalu”


“OH…”


Hanya perkataan itu yang bisa keluar dari mulutku. Sedikit pun tak ada rasa sedih di hatiku yang kurasakan saat mendengar ibuku telah meninggal.


“Ini, sebelum meninggal, Ibumu memberikan surat ini untukmu”


Setelah menyerahkan surat ia segera bergegas pergi. Ku buka lembar surat yang sudah kumal itu :


"...Untuk anakku yang sangat Aku cintai,

   Anakku yang kucintai aku tahu kau sangat membenciku. Tapi Ibu senang sekali waktu mendengar kabar bahwa akan ada reuni disekolahmu.
   Aku berharap agar aku bisa melihatmu sekali lagi. karena aku yakin kau akan datang ke acara Reuni tersebut.

   Sejujurnya ibu sangat merindukanmu, teramat dalam sehingga setiap malam Aku hanya bisa menangis sambil memandangi fotomu satu-satunya harta yang ibu punya.
Ibu tak pernah lupa untuk mendoakan kebahagiaanmu, agar kau bisa sukses dan melihat dunia luas.


   Asal kau tau saja anakku tersayang, sejujurnya mata yang kau pakai untuk melihat dunia luas itu salah satunya adalah mataku yang selalu membuatmu malu.

   Mataku yang kuberikan padamu waktu kau kecil. Waktu itu kau dan Ayah mu mengalami kecelakaan yang cukup hebat, tetapi Ayahmu meninggal, sedangkan mata kananmu mengalami kebutaan. Aku tak tega anak tersayangku ini hidup dan tumbuh dengan mata yang cacat maka aku berikan satu mataku ini untukmu.

   Sekarang aku bangga padamu karena kau bisa meraih apa yang kau inginkan dan cita-citakan.
   Dan akupun sangat bahagia bisa melihat dunia luas dengan mataku yang aku berikan untukmu.

   Saat aku menulis surat ini, aku masih berharap bisa melihatmu untuk yang terakhir kalinya, Tapi aku rasa itu tidak mungkin, karena aku yakin maut sudah di depan mataku.

 ...Peluk cium dari Ibumu tercinta"....



Bagai petir di siang bolong yang menghantam seluruh saraf-sarafku, Aku terdiam! Baru kusadari bahwa yang membuatku malu sebenarnya bukan ibuku, tetapi diriku sendiri . . .* * *







gravatar

Cerpen : Aku Mencintaimu, Reo . .

Reo dan July adalah sepasang kekasih yang serasi walaupun keduanya berasal dari keluarga yang jauh berbeda latar belakangnya.


Keluarga July berasal dari keluarga kaya raya dan serba berkecukupan, sedangkan keluarga Reo hanyalah keluarga seorang petani miskin yang menggantungkan kehidupannya pada tanah sewa'an.




Dalam kehidupan mereka berdua, Reo sangat mencintai July.


Reo telah melipat 1000 buah burung kertas untuk July dan July kemudian menggantungkan burung-burung kertas tersebut pada kamarnya.


Dalam tiap burung kertas tersebut Reo telah menuliskan harapannya kepada July. Banyak sekali harapan yang telah Reo ungkapkan kepada July. “Semoga kita selalu saling mengasihi satu sama lain”,”Semoga Tuhan melindungi July dari bahaya”,”Semoga kita mendapatkan kehidupan yang bahagia”,dsb. Semua harapan itu telah disimbolkan dalam burung kertas yang diberikan kepada July.




Suatu hari Reo melipat burung kertasnya yang ke 1001. Burung itu dilipat dengan kertas transparan sehingga kelihatan sangat berbeda dengan burung-burung kertas yang lain.


Ketika memberikan burung kertas ini, Reo berkata kepada July: “ July, ini burung kertasku yang ke 1001. Dalam burung kertas ini aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan antara aku dan kamu. Aku akan segera melamarmu dan kita akan segera menikah. Semoga kita dapat mencintai sampai kita menjadi kakek nenek dan sampai Tuhan memanggil kita berdua ! “




Saat mendengar Reo berkata demikian, menangislah July. Ia berkata kepada Reo : “Reo, senang sekali aku mendengar semua itu, tetapi aku sekarang telah memutuskan untuk tidak menikah denganmu karena aku butuh uang dan kekayaan seperti kata orang tuaku!”




Saat mendengar itu Reo pun bak disambar geledek. Ia kemudian mulai marah kepada July. Ia mengatakan July matre, orang tak berperasaan, kejam, dan sebagainya. Akhirnya Reo meninggalkan July yg menangis seorang diri.




Reo mulai terbakar semangatnya. Ia pun bertekad dalam dirinya bahwa ia harus sukses dan hidup berhasil. Sikap July dijadikannya cambuk untuk maju dan maju.


Dalam Sebulan usaha Reo menunjukkan hasilnya. Ia diangkat menjadi kepala cabang di mana ia bekerja dan dalam setahun ia telah diangkat menjadi manajer sebuah perusahaan yang bonafide dan tak lama kemudian ia mempunyai 50% saham dari perusahaan itu.


Sekarang tak seorangpun tak kenal Reo, ia adalah bintang kesuksesan.




Suatu hari Reo pun berkeliling kota dengan mobil barunya. Tiba-tiba dilihatnya sepasang suami-istri tua tengah berjalan di dalam derasnya hujan. Suami istri itu kelihatan lusuh dan tidak terawat. Reo pun penasaran dan mendekati suami istri itu dengan mobilnya dan ia mendapati bahwa suami istri itu adalah orang tua July.




Reo mulai berpikir untuk memberi pelajaran kepada kedua orang itu, tetapi hati nuraninya melarangnya sangat kuat. Reo membatalkan niatnya dan ia membuntuti kemana perginya orang tua July.




Reo sangat terkejut ketika didapati orang tua July memasuki sebuah makam yang dipenuhi dengan burung kertas. Ia pun semakin terkejut ketika ia mendapati foto July dalam makam itu. Reo pun bergegas turun dari mobilnya dan berlari ke arah makam July untuk menemui orang tua July.




Orang tua July pun berkata kepada Reo :”Reo, sekarang kami jatuh miskin. Harta kami habis untuk biaya pengobatan July yang terkena kanker rahim ganas. July menitipkan sebuah surat kepada kami untuk diberikan kepadamu jika kami bertemu denganmu.” Orang tua July menyerahkan sepucuk surat kumal kepada Reo.




Reo membaca surat itu :




“Reo, maafkan aku. Aku terpaksa membohongimu.


Aku terkena kanker rahim ganas yang tak mungkin disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu,


karena jika itu aku lakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam kehidupan sentimentil yang penuh keputusasaan yang akan membawa hidupmu pada kehancuran.


Aku tahu semua tabiatmu Reo,


karena itu aku lakukan ini. Aku sangat mencintaimu Reo…………..


-July- “






Setelah membaca surat itu, menangislah Reo. Ia telah berprasangka terhadap July begitu kejamnya. Ia pun mulai merasakan betapa hati July teriris-iris ketika ia mencemoohnya, mengatakannya matre, kejam dan tak berperasaan.


Ia merasakan betapa July kesepian seorang diri dalam kesakitannya hingga maut menjemputnya, betapa July mengharapkan kehadirannya di saat-saat penuh penderitaan itu. Tetapi ia lebih memilih untuk menganggap July sebagai orang matre tak berperasan. July telah berkorban untuknya agar ia tidak jatuh dalam keputusasaan dan kehancuran.




* * *






Note of Story :


Cinta bukanlah sebuah pelukan atau ciuman tetapi cinta adalah pengorbanan untuk orang yang sangat berarti bagi kita. ^_^ . . .










gravatar

Cerpen : Dia Memang Untuk Sahabat . .


Kadang ga tahu gimana ani mau memberikan semua yang ada, tapi yang jelas ada suatu yang pernah bisa di lupakan ani.


Sore itu ketika semua orang sedang sibuk membereskan segala perlengkapan pesta ulang tahun ani, datang seorang cowok. sebenarnya bila di lihat sih ga ganteng amat hanya saja kulitnya bersih dan juga rapi cara berpakaiannya .


Ani tanpa sengaja berpapasan dengan cowok itu , tanpa terasa ia begitu kagum kepada cwo itu.

“Hai Ri… “ujar Saski yang baru datang

“pakabar kamu lama ga ketemu, sekarang sekolah dimana kamu?...” ujar saski pada rio.

”ga jauh sih dengan sekolah kamu yang sekarang ki… tapi mungkin karna kita jarang ketemu aja kaliya jadinya kayak dah lama banget tak jumpa he he he maklum kamu sekarang kan udah populer tuuu”


Seloroh rio pada saski,.

“Apanya yang populer,? bolosnya kali….aha ha ha”


Terlihat rio dengan saski sudah begitu akrap saat itu.


Ani yang dari tadi mencuri-curi pandangan pada Rio merasa sedikit cemburu pada Saski yang baru datang aja udah terlihat akrab pada Rio


Ani berkata dalam hati :

“mengapa ya aku baru tahu kalo Saski punya temen kayak gitu coba dari dulu aku tahu pasti deh aku sekarang ga jomblo lagi”


“eh teringat lagunya she tuh yang judulnya jomblowati yah namanya juga hidup” pikir ani..

“ini ya yang namanya takdir saat hari ulang tahunku baru tahu lo manusia tu emang perlu pasangan yah emang ga seperti yang aku pikir” .

“maunya sih pacaran ntar kalo dah kuliah atau udah kerja, sekalian maklum akukan pengen jadi wanita karier..""ahh ngapain ya enknya niiii “ pikir ani saat melihat Saski dengan Rio ga di tempat tadi lagi


“Wah Ani ngapain disini melamun mentang-mentang yang mau ultah” ujar Saski yang tiba tiba udah ada di belakang Ani.


“ah nggak Cuma rapiin meja makanan tar malam, oh ya jangan sekarang aja ya kesininya, tar malam juga harus datang ya kamukan tahu aku cma sendirian maksudnya ga punya cowok gtu….hehehe” canda Ani pada Saski.



“oke deh tar pasti aku dateng”


“ ngomong ngomong mang siapa sih nama cowok yang sama kamu tadi?” Tanya Ani pada Saski dengan sedikit malu.

“wah wah wah jangan-jangan naksir ni snow angel kita” ujar Saski. memang Ani suka sekali di sebut snow angel sama teman teman sekolahnya maklum dia emang putih banget cantik dan santun pada siapapun makanya dia sering di sebut snow angel.


“Ah ga Cuma pengen tahu aja” kata Ani menutupi mukanya yang sedikit memerah karena malu sama Saski yang sudah bisa menebak kemana pikiran Ani.


“Ga papa lagi kalo kamu suka ma Rio lagian Rio itu temen dekat aku jadi aku tahu betul gimana Rio itu!!” ujar Saski pada Ani ,.


“Mang gimana orangnya sas?!…” kata Ani


“Ya orangnya tu smart, pandai n selalu bisa menyenangkan orang lain n bla bla bla pokoknya” kata Saski nerocos ngejelasin tentang Rio.


“Eh an napa ga kenalan aja sendiri sii” kata Saski lagi,.


“Malu tahu!?...” ujar Ani.

“Oh ma…luuuuu ni ma rio, knapa?!,,,” kata Saski lagi sambil tersenyum senang bisa sedikit ngerjain temannya yang mukanya tambah merah kayak udang di rebus.


Nah tu orangnya kita samperin yuk, ujar saski sambil tangannya menarik tangan ani dengan sedikit paksa agar ani mengikuti langkah saski mendekati rio


“Rio da yang mau kenalan ni ma kamu” kata Saski pada rio yang sudah berdiri di sampingnya


“Siapa sas?…” ujar rio


"ini temen aku kenalin dong?….

“Ani….?”


” Rio”


secara bersamaan mereka berkata.

” Ehem – ehem!!” saski batuk yang sengaja di buat buat kali ini

“Jangan lama - lama lo salaman tar lengket trus ga bisa di lepas lagi he he he…”


Seloroh Saski sekenanya melihat tangan mereka agak lama berjabat tangan


“Wah gayung bersambut ni!!” ujar saski lagi yang di tanggapi Ani ma Rio dengan tersipu malu tapi mau itu


“Udah klo sama sama tertarik napa ga di coba aj” ujar saski


“Apaan sih… saski" kata Ani sambil tangan nya memukul lengan Saski dengan sedikit keras.


“awh…!! sakit tahu ngapain sih mesti malu klo emang sama sama suka”.

* * *

Itulah awal pertemuan Ani waktu pertama kali melihat pujaann hati dia sekarang.,


Kini sudah hampir satu tahun pertemuan masa pacaraan ani dengan Rio dan sekarang udah sama sama hampir lulus sekolah

U.N udah selesai tinggal menuggu pengumuman kelulusan sekolah Ani masih membayangkan pujaan hati.


mamanya masuk menegur Ani.,” Ani…sayang dah keluar belum pengumumannya nak…”.ujar mama Ani sambil mengelus rambut Ani dengan penuh kasih sayang,.




“belum ma lagian baru aja selesai ma U.N nya biasanya juga seminggu atau setengah bulan baru ada pengumuman ,. Mang mau ngapain ma tumben nanya kayak gitu?.…”


“Mang mama nanya ga boleh..?...” kata mamanya sedikitt keras


“Ya boleh lah ma maksud Ani ada acara apaan tumben nanyain?”


"Tar kamu mau lanjut kemana" sambung mamanya pada ani


"Kemana ya ma enaknya sekarang " ani terlihat bermanja-manja sama mamanya


“Kok malah balik Tanya ma mama sih ?!.../…”

“Wong mama nanya tu pengen tahu kali aja ani tdak ada rencana mau kemana gitu apa mau lanjut ke unsri aj sekalian tinggalnya di rumah lama kita aj, kan sayang klo ga di tempati ntar lapuk aj” seloroh mamanya pada ani


“Wah yang di indralaya itu ya ma, takut ah klo sendirian lagian kaka juga kuliah di sini, mending ke unanti atau ke yang lain asal masih di palembang aj dari pada jauh jaauh ma”.,


“Ya udah kalo gitu” , sambil mamanya berdiri dan mulai berjalan keluar dari kamar ani

“Kemana ma ko sebentar aj ngobrolnya?...” ujar ani


“Mama mau ke supermarket mau belanja dulu mau ikut?...” tawar mamanya pada ani


“Mau dong ma kan sekalian jalan - jalan and soping dari pada di rumah aj tambah bete rasanya” kata ani lagi


“Mang bete kenapa?!” ujar mamanya menghentikan langkahnya menanggapi kata kata putrinya yang cantik jelita


“Iya soalnya ah….adadeh…” tiba tiba ani memutus kata katanya sendiri


“Ah ya udah cepat klo mau ikut mandi sono n ganti baju tar mama tunggu di bawah ya…”


Ujar mamanya lagi sambil meneruskan langkahnya yang tadi berhenti


Sesampainya di mall mama ani bersama ani memilih semua keperluan yang di butuhkan mama ani


“Ma udah kelar ni makan yuk ma kan dah lama ga ke texas” ujar ani


“Ayo lagian sekalian tar beli buat kakakmu ma papa” ujar mamanya pada ani


Tapi betapa terkejutnya ani setelah memasuki tempat makan istimewa itu


Disitu dia melihat rio sedang berdua dengan saski dengan mesranya saski memeluk rio yang ada di sampingnya.


ani merasa dunia ini mau kiamat melihat hal itu dya tidak menyangka pacar dan sahabatnya bisa menghianati dirinya


Tega lu ya sas ujar ani yang sudah langsung menghampiri mereka


Saski sendiri kelihatan gugup waktu ani tahu tahu udah berada di sisinya


Ani!!... saski berkata dengan sedikit kaget begitu juga rio


"Ani ini ga seperti yang kamu fikir an…. Aku ma rio Cuma makan aj soalnya aku mau curhat" Elak saski pada ani



Tapi ani yang sudah di ubun ubun emosinya langsug membantah


"Emang curhat harus peluk pelukan mesra gitu lagian tadi aku lihat kamu bukan curhat tapi mesra mesraan ma rio kamu juga rio apasih mau kamu sama aku?....


"Jawab rio….!!!" Teriak ani yang matanya sudah berkaca kaca kali ini


Setelah kejadian itu Ani merasa buat apa hidup klo semuanya menghianati dia


Tapi di lain kesempatan rio datang kerumah Ani


“Ani aku mau ngejelasin soal yang kemarin” kata rio membuka perkataan yang sedikit agak kaku suasananya itu


“Sebenarnya aku udah dua bulan ini jalan ma saski bukannya aku ga sayang atau cinta ma kamu tapi aku merasa kasian ma saski”



“Tahu ga kamu kalo saski udah kena kangker darah setadium 3”

“Hah kangker darah!!” sedikit terkejut ani mendengar rio berkata begitu


“Iya dan dokter bilang berilah Saski sedikit perhatian, karna hidupnya,, hanya tinggal menghitung bulan”


“Tapi bukan begitukan sharusnya kamu sama saski ingatkan kamu dengan aku masih pacaran”


“Iya aku ingat tapi saski waktu itu juga bilang ke aku klo dia sebenarnya dah lama jatuh cinta ma aku tapi takut tuk mengatakannya makanya dia mengenalkan kamu itu ke aku agar dia juga masih bisa melihat aku”


“Tapi dia baru jujur saat dia tahu bahwa umurnya mungkin ga bakalan lama lagi

"Ya sudah sekarang kita putus cepat kamu pulang”



Dengan kesedihan yang masih belum pulih ani memutuskan tuk pisah degan rio seperti berakhirnya masa sekolahnya kini


Mungkin dengan besar hati dia merelakan pacarnya itu untuk sahabatnya.


*Saski, smoga kamu bahagia tuk masa masa akhir hidupmu . . .*


* * *







Terjemahkan..?

Artikel Terpopuler

Kunjungan Negara

Free counters!