gravatar

Cerpen : Keperawanan yg Hilang di malam Valentine (Part 1) . . .

...Bunga-bunga bertaburan indah didepan mata Rin, aromanya yg nyaman di hidung membangkitkan semangat untuk segera menghirupnya. Dia pun jingkrak-jingkrak.

Ya, ini pertama kali Ririn diijinkan Ayahnya untuk keluar dengan Deni, pacarnya. Setelah dirinya ber’argumen dan sedikit ancaman dari Rin yg akan mengurung diri di kamar jika dirinya tak diijinkan keluar.
Maklumlah Rin adalah anak perempuan satu satunya. Dan bukan pertama kalinya keinginannya harus dipenuhi. Meski menyimpan kekhawatiran, Ayah dan Ibunya terpaksa mengijinkannya.

Kata terakhir yang keluar sebelum mereka pergi adalah
“ Den, tolong kamu jaga ya?”.

Bukan tak mempercayai deni,tapi mereka sama-sama masih SMP, masih terlalu kecil untuk diamanahi apapun.

Seperti burung lepas kandang, mereka terbang jauh mengelilingi batas-batas daerah, mereka tak sadar musuh tentunya siap-siap dengan taringnya.

Sampailah mereka jauh dari Desa, dari pantauan kakak Rin, orangtua dan masyarakat yang akan membela mereka.

Taman Rimba. Ya letaknya didalam Kota. Meski dalam Kota, taman ini adalah hutan buatan tempat binatang yang dilindungi. Biasanya jika disiang hari tempat ini dijadikan liburan keluarga. Hiburan murah meriah sambil mengenal satwa bagi anak anak mereka.

Deni memilih tempat ini karena pada malam itu akan banyak pasangan ABG yang merayakan Hari Valentine dan mencatatkan moment paling berharga dalam sejarah percintaan mereka.

***
“Den, kita pulang yuk!” Ririn mulai jengah dengan suasana taman, makin malam makin banyak muda mudi yang datang.

Sebagian dari mereka bertahan tetap di arena menikmati acara yang disediakan panitia. Ada juga yang menghabiskan waktu dengan keliling taman, duduk-duduk, tak sekali Rin jumpai pasangan sedang berpelukan, lip kissing seperti yang dilihatnya di film-film percintaan Korea bahkan lebih…

Saat itu sulit dibedakan mana penghuni taman rimba dan mana yang pengunjungnya.
“Bentar lagi Rin, sayang kan jauh-jauh kita cepat pulang.

Acaranya baru juga dimulai. Siapa tau nanti kita dapat doorprize atau kita dinobatkan jadi pasangan paling mesra. Apa kamu gak ingin kita selalu mengingat moment ini. ”.

Benar Saja, perkataan Deni meluluhkan hati Rin untuk tetap bertahan. Deni adalah cinta pertamanya. Dia sangat menyayangi lelaki itu dan tak ingin membuat dia kecewa.
Jam menunjukan pukul 21.40 WIB ketika Rin melihat jam pada handphonenya. Ada banyak panggilan tak terjawab disana. Ia Lupa untuk mengubah nada silent dari sepulang sekolah tadi.

“Rin, kamu dimana? Cepat pulang! “, itu sms yang dikirim kakaknya. Rendra. Ririn semakin gusar.

“Deni, pokoknya kita harus pulang sekarang! Ayah pasti cemas. Ini sudah terlalu malam.”

Deni hanya pandangi wajah kekasihya itu sekilas dengan gurat kecewa. Karena ia masih ingin menikmati acara demi acara. Deni berlalu menuju tempat parkiran. Rin mengambil helm dari tangan Deni yg masih tetap dengan isyarat yg sunyi.

Suasana mencekam, gelap dan sunyi, suara sound speaker terdengar sangat jauh. Tiba-tiba motor yang dikendarai Deni mogok. Bagi orang yang waras tentu lebih memilih tidur berselimut dirumah dari pada keluyuran. Kalau tidak karena permintaan Deni tentu Ririn lebih memilih dirumah saja. Ririn masih mengingat permohonan Deni.

“ Ririn, sekali ini saja, malam Valentine. Malam kasih sayang. Malam seluruh dunia berbahagia. Merayakan!. Besok jam sekolah kosong juga hanya diisi eskul kan?”.

“Menyesalkah ? entahlah dilain sisi Ririn juga menikmati setiap detik, menit dan seluruh waktu bersama Deni. Setiap getaran yang mengalir mengingatkan pada Ririn, mungkin cinta memang memerlukan pengorbanan.
Pengorbanan ?

* * *

Pada akhirnya Ririn benar benar dituntut untuk berkorban. Pengorbanan yang tak pernah diharapkan. Dibayangkan, oleh Deni, dirinya atau siapapun juga. Pengorbanan yang sia sia. Konyol. Sewaktu motor Deni mogok, dua orang pria tinggi besar berpawakan polisi menghampiri.

“kalian disini ngapain?” Tanya seorang lelaki yang berambut ikal kepak

“ motor kami mogok, Bang,,! “

“Alasan! Kalian mau mesum ya ?”

“ Bener! gak bang! Jawab Deni, yang mulai menciut mentalnya. Pasalnya dua lelaki itu membentak.

“ikut kami! Ajak lelaki itu setelah bertanya alamat dan kartu pelajar. Lelaki perpawakan polisi itu mengintrogasi Deni dan Ririn secara terpisah.

“ kamu pasti sudah mesum ? kamu sudah tak perawan kan ? Tanya lelaki itu ke Ririn

“ Ririn hanya terisak pasalnya dia takut suara tinggi, bentakan.
Orang tuanya tak pernah membentaknya. Ditambah lagi suasana hutan yang gelap, hanya cahaya handphone dari lelaki asing itu. “Deni, dimana kau ?“ pikirnya.
“Deni!!!” hanya kata itu yang sanggup keluar. Sekarang Ririn benar-benar takut bukan saja karena bentakan tapi laki-laki itu menyusupkan tangannya ke dalam kemeja Ririn.

“ Alahhh!, kamu juga sudah tidak perawankan?, jangan berisik ! ShaL yang dipake Ririn berpindah membungkam mulutnya. Tenaga lelaki itu terlalu kuat. Ririn tak dapat berbuat apa apa dan tak mengetahui apa apa? Hal buruk telah menimpanya.

Ditempat yang berbeda Deni dimintai uang dan handphonenya. Jika tidak diberikan maka akan diancam dimasukan ke kantor polisi. Nyali Deni yang masih SMP tak bertahan, dan tidak bisa berpikir panjang. Apalagi ia berasal dari Desa. Mentalnya bertekuk lutut diserahkan uang tiga puluh ribuan itu beserta handphonenya.

***

“ arrrgh! Kenapa kamu tak bilang dari tadi Rin? Geram Deni ketika saling bertemu. Geram. Setelah mendengar pengakuan Ririn. Dia putar motornya kearah tempat dimana motornya tadi mogok.
Dia putari seluruh taman. Sia sia. Tidak ia temui dua lelaki tersebut. Putus harapan ia beranikan diri untuk menghampiri pos satpam penjagaan dan menanyakan tentang dua lelaki tersebut.

Tapi penjaga mengaku tidak mengenali sama sekali dengan ciri ciri yang disebutkan. “ kalau polisi yang patroli disini biasanya pake seragam Dek” jelas penjaga tersebut.
Setitik jalan keluar tak mereka temui sedikitpun, semua tertutup. Gelap dan semakin gelap seperti hari yang hampir mendekati tengah malam. Deni dan Ririn merayakan hari Valentine penuh dengan tangis. Tangis yang tak akan pernah kering sampai kapanpun.

***

Ririn pagi pagi sekali datang ke sekolah. Ia sangat bingung harus bagaimana. Ingin segera ia bertemu dengan Deni. Matanya tak terpejam barang semenitpun. Bukan karena berkumpulnya rindu seperti hari biasa tapi karena kecemasan dan rasa shok bersekongkol disana.

Tak disangka Deni sudah berada di kelas. Senyumnya berubah menjadi masam ketika Dia lihat Deni bersama Santi. Dilihatnya coklat ditangan Santi.

“Deni, beri aku penjelasan?” ditariknya Deni kebelakang kelas.

“Rin, maaf aku masih Perjaka. Gila!, kalau aku memperoleh yang tidak perawan”. Jawab Deni sambil menunduk. “Santi sudah lama mencintaiku. Tidak salahnya aku mengobati kekecewaan ini dengannya. Aku kecewa Rin. Aku shok”.

Sekarang Rin yang benar benar merasa gila. Tangisnya sudah kering. Badannya kehilangan kekuatan. Disandarkannya di tiang bangunan. Sunyi. Sampai tanda bel masuk berbunyi.

“ Maaf Rin, kuharap kamu baik-baik saja. Yuk kita masuk”. Kata Deni sambil berlalu.

***




Terjemahkan..?

Artikel Terpopuler

Kunjungan Negara

Free counters!